logo tb
BeritaHukumJakartaMetropolitanNasionalNewsTerkini

Telepon Gelap Usai Kritik Prabowo: Istana Membantah, Mengaku ‘Tak Tahu’

185
×

Telepon Gelap Usai Kritik Prabowo: Istana Membantah, Mengaku ‘Tak Tahu’

Sebarkan artikel ini

Targetberita.co.id Jakarta, Jagat media sosial Indonesia kembali diguncang isu panas. Sejumlah warganet mengaku mendapat telepon misterius dari nomor tak dikenal, disertai permintaan menghapus unggahan bernada kritik terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Isu ini meledak dan viral lintas platform mulai dari X (Twitter), Facebook, Instagram, TikTok, hingga YouTube memicu kecurigaan publik akan adanya teror digital terorganisir.

Namun, Istana memilih sikap dingin.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengaku tidak mengetahui adanya dugaan intimidasi tersebut. Saat ditemui usai rapat kerja di Gedung DPR RI, Senin (26/1/2026), Prasetyo menegaskan pemerintah tidak memantau isu yang tengah menghebohkan ruang publik itu.

“Saya enggak monitor itu. Pokoknya kami kerja,” ujar Prasetyo singkat.

Pernyataan ini justru menjadi bahan bakar baru bagi perdebatan publik.

Kasus ini pertama kali mencuat dari akun X @coacu, yang mengunggah tangkapan layar riwayat panggilan dari nomor +6281311625845.

Ia mengaku diminta menghapus unggahan berupa repost artikel media nasional berjudul “Prabowo Ingin Universitas Top Inggris Buka di Indonesia”, yang disertai komentar satir berbahasa Jawa.

Unggahan tersebut meledak secara algoritmik. Hingga Senin siang:

Ditonton lebih dari 4,8 juta kali

Mendapat 41 ribu tanda suka

Dibagikan ulang lebih dari 4.400 akun

Fenomena ini tak berhenti di satu akun. Warganet lain seperti @kaneki dan @hooman mengaku mengalami hal serupa—di­hubungi nomor yang sama, dengan tekanan identik: hapus unggahan atau bersiap menerima konsekuensi.

“Gua juga ditelpon dari nomor yang sama semalam. Makin bangsat aja kalian,” tulis @kaneki.

Pantauan percakapan digital menunjukkan isu ini menyebar lintas ekosistem media sosial:

X (Twitter): Tagar bertema kebebasan berekspresi dan anti-intimidasi sempat menanjak.

Instagram & Facebook: Tangkapan layar telepon misterius beredar luas di story dan grup diskusi politik.

TikTok: Video reaksi, analisis, hingga dugaan “operasi senyap digital” bermunculan dan meraup ratusan ribu views.

YouTube: Sejumlah kreator politik mengangkat isu ini sebagai indikasi memburuknya ruang kritik publik.

Narasi publik pun mengerucut pada satu pertanyaan besar:

apakah ini kerja individu liar, relawan fanatik, atau ada kekuatan lebih besar di belakangnya?

Menanggapi kecurigaan warganet yang mengarah ke Istana, Prasetyo Hadi dengan tegas membantah.

“Enggaklah,” katanya singkat saat ditanya apakah ada keterlibatan pemerintah.

Ia kembali menekankan bahwa pemerintah fokus bekerja dan tidak terlibat dalam upaya membungkam kritik di ruang digital.

Namun, ketiadaan penjelasan detail dan absennya langkah klarifikasi resmi justru memperlebar ruang spekulasi.

Pengamat media sosial menilai kasus ini sebagai alarm serius bagi demokrasi digital.

Terlepas dari siapa pelakunya, telepon langsung dengan tekanan personal dianggap sebagai bentuk intimidasi yang berbahaya dan berpotensi melanggar hukum.

Hingga kini:

Belum ada laporan resmi penelusuran nomor

Belum ada pernyataan aparat penegak hukum

Belum ada klarifikasi dari operator seluler

Sementara itu, netizen terus bersuara—menolak diam, menolak takut.

Jika Istana tidak tahu,

jika pemerintah membantah,

lalu siapa yang menghubungi para pengkritik itu?

Dan yang lebih penting:

apakah kritik kini harus dibayar dengan rasa takut?

Isu ini belum selesai. Justru baru dimulai.

(Agus)