Targetberita.co.id Surabaya – Jawa Timur, Balai Taman Nasional (TN) Tesso Nilo terus mendorong percepatan pemulihan kawasan hutan yang kini mengalami kerusakan serius.
Dari total luas lebih dari 81 ribu hektare, sekitar 56 ribu hektare di antaranya disebut telah berubah menjadi perkebunan.
Kepala Balai TN Tesso Nilo, Heru Sutmantoro mengatakan kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah terbesar dalam upaya mengembalikan fungsi kawasan sebagai habitat satwa liar, khususnya Gajah Sumatra.
“Saat ini rumah gajah di TN Tesso Nilo perlu kita pulihkan kembali. Luas Tesso Nilo lebih dari 81.000 hektare, dan sekitar 56.000 hektare sudah ditanami sawit. Jadi sebagian besar sudah berubah dari hutan menjadi kebun sawit,” ujar Heru dalam dialog bersama Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya, Minggu 8/2/2026.
Menurut dia, pemulihan kawasan hutan (reforestasi) menjadi penting agar gajah-gajah liar yang selama ini berada di luar pembinaan dapat kembali ke habitat alaminya dengan aman dan nyaman.
Harapannya, kawasan yang telah direstorasi dapat kembali membentuk tutupan hutan yang memadai sebagai ruang hidup satwa khususnya Gakah Sumatra.
“Itu pekerjaan terberat saat ini, mengembalikan rumah mereka. Harapan kita, gajah-gajah liar bisa masuk ke taman nasional dengan nyaman. Di situ terbentuk kembali hutan dan ekosistemnya,” katanya.
Upaya pemulihan tersebut, lanjut Heru, tidak lepas dari pro dan kontra di tengah masyarakat.
Namun pemerintah daerah bersama sejumlah pihak telah membentuk Tim Percepatan Pemulihan Taman Nasional Tesso Nilo bersama pemerintah tingkat provinsi.
“Di provinsi sudah dibentuk Tim Percepatan Pemulihan Taman Nasional Tesso Nilo. Di dalamnya ada unsur pemerintah yang bersama-sama memulihkan taman nasional yang saat ini dalam kondisi rusak,” jelasnya.
Selain pendekatan struktural melalui tim percepatan, Heru menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Ia menilai tantangan terbesar saat ini adalah mengubah pola pikir masyarakat yang kerap mengesampingkan aspek lingkungan demi kepentingan ekonomi.
“Kami juga perlu kesadaran masyarakat. Ini tantangan terberat. Masyarakat sering dipicu oleh faktor ekonomi dan gaya hidup, sehingga hak-hak lingkungan terabaikan. Mengubah cara pikir dan pemahaman masyarakat itu pekerjaan yang sangat memakan sumber daya,” ujarnya.
Ke depan, Balai TN Tesso Nilo berharap sinergi pemerintah dan masyarakat dapat mempercepat pemulihan kawasan, sehingga habitat gajah Sumatera kembali lestari dan mampu mendukung keberlangsungan populasi satwa dilindungi tersebut.
(Red)












