Scroll untuk baca artikel
Whats-App-Image-2026-03-14-at-19-21-23
logo tb
BantenBeritaCilegonDaerahHukumNasionalNewsTerkiniTNI / POLRI

Di Cilegon, Beli Obat Daftar G Bisa Pakai Metode COD

484
×

Di Cilegon, Beli Obat Daftar G Bisa Pakai Metode COD

Sebarkan artikel ini

Targetberita.co.id Cilegon – Banten,  Peredaran obat keras yang masuk daftar G, masih marak di wilayah Kecamatan Cibeber, Pasar Kranggot hingga terminal seruni Kota Cilegon.

Modus yang dilakukan penjual obat-obatan terlarang seperti eximer dan tramadol tanpa resep dokter itu, dengan cara transaksi cash on delivery (COD).

Pembelinya didominasi kalangan anak muda, yang kerap mangkal di emperan pasar, kos-kosan hingga gubuk bambu pinggir jalan

Dugaan maraknya peredaran obat keras jenis eximer dan tramadol ini sudah berkali-kali mendapatkan sorotan.

Ironisnya, para penjual obat keras daftar G jenis eximer dan tramadol dengan modus COD itu luput dari aparat berwenang, seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Dinas Kesehatan dan pihak Kepolisian.

Demikan dikemukakan Rahmat, pemerhati sosial yang juga aktivis Lembaga Swadaya Masarakat GERAM Banten.

Ia memang dikenal getol menyoroti maraknya peredaran obat tanpa izin edar tersebut.

Menurut Rahmat, lokasi peredaran obat terlarang itu berada di tiga titik seperti di Kecamatan Cibeber, Pasar Kranggot hingga terminal seruni.

“Bos yang mengendalikan peredaran obat keras namanya W dan M alias Botak,” ungkap Rahmat.

Direktur Reserse Narkoba Polda Banten, Kombes Pol Wiwin Setiawan, mengatakan bahwa pihaknya telah mendapatkan informasi terkait dengan hal tersebut.

Pihaknya pun akan segera menindaklanjuti dugaan tersebut, termasuk nama-nama yang telah disebutkan.

“Terimakasih informasinya nanti kita tindaklanjuti,” ungkap Wiwin Setiawan.

(Daniel Turangan)

An – 26 Jatuh di Krimea, 29 Orang Tewas Tanpa Tanda Serangan KRIMEA – Dugaan gangguan teknis menjadi fokus awal penyelidikan jatuhnya pesawat angkut militer Rusia jenis Antonov An-26 di wilayah Semenanjung Krimea yang menewaskan seluruh 29 orang di dalamnya. Insiden ini terjadi saat pesawat menjalankan penerbangan rutin dan kehilangan kontak dengan pusat kendali. Kementerian Pertahanan Rusia mengungkapkan bahwa komunikasi dengan pesawat terputus pada Senin 31 Maret 2026 sekitar pukul 18.00 waktu Moskow saat pesawat berada di udara dalam misi terjadwal. “Pada 31 Maret sekitar pukul 18.00 waktu Moskow, kontak hilang dengan pesawat angkut militer An-26 saat sedang menjalankan penerbangan terjadwal di atas Semenanjung Krimea,” kata kementerian tersebut, sebagaimana dilansir Cnbc Indonesia, Rabu, (01/04/2026). Tim pencarian dan penyelamatan kemudian dikerahkan dan berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat. Dari hasil temuan di lapangan, seluruh awak dan penumpang dinyatakan meninggal dunia. “Tim pencarian dan penyelamatan telah menemukan lokasi jatuhnya pesawat An-26. Berdasarkan laporan dari lokasi, enam awak dan 23 penumpang di dalamnya tewas,” tambah kementerian itu. Total korban dalam insiden ini mencapai 29 orang, terdiri dari enam awak dan 23 penumpang. Tidak ditemukan adanya korban selamat dalam peristiwa tersebut. Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa hasil pemeriksaan awal terhadap puing-puing pesawat tidak menunjukkan adanya tanda-tanda dampak eksternal. Hal ini memperkuat dugaan bahwa kecelakaan kemungkinan besar dipicu oleh kegagalan teknis pada pesawat. Meski demikian, penyelidikan lanjutan masih terus dilakukan untuk memastikan penyebab pasti jatuhnya pesawat tersebut. Otoritas terkait juga tengah mengumpulkan data penerbangan dan rekaman komunikasi guna mengungkap kronologi lengkap kejadian. Peristiwa ini kembali menjadi perhatian terhadap aspek keselamatan penerbangan militer, khususnya terkait kelayakan teknis armada yang digunakan dalam operasi rutin. Hasil investigasi diharapkan dapat memberikan kejelasan penyebab kecelakaan sekaligus menjadi dasar evaluasi guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Berita

Targetberita.co.id Krimea – Ukraina, Dugaan gangguan teknis menjadi…