Scroll untuk baca artikel
Whats-App-Image-2026-03-14-at-19-21-23
logo tb
BeritaJakartaMetropolitanNasionalNewsTerkini

Guncang Dominasi Barat, Iran Ajak Negara Teluk dan Irak Bentuk Aliansi Keamanan Baru

20
×

Guncang Dominasi Barat, Iran Ajak Negara Teluk dan Irak Bentuk Aliansi Keamanan Baru

Sebarkan artikel ini
https://targetberita.co.id/wp-content/uploads/2026/03/WhatsApp-Image-2026-03-14-at-19.21.23.jpeg

Targetberita.co.id Jakarta, Duta Besar Iran untuk Arab Saudi, Alireza Enayati, menyerukan pembentukan blok keamanan mandiri yang melibatkan enam negara Teluk (GCC), Irak, dan Iran.

Langkah berani ini bertujuan untuk mendepak pengaruh kekuatan asing, terutama Amerika Serikat (AS), yang selama lima dekade terakhir dianggap gagal menciptakan perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Melansir Reuters, Selasa (17/3/2026), Enayati menegaskan hubungan Iran dengan negara-negara tetangganya memerlukan “tinjauan serius” menyusul pecahnya perang terbuka antara AS-Israel melawan Iran sejak akhir Februari lalu.

“Kita adalah tetangga dan tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Apa yang terjadi selama 50 tahun terakhir adalah hasil dari ketergantungan berlebihan pada kekuatan eksternal,” tegas Enayati.

Strategi ‘Aliansi Delapan’ vs Tekanan Washington

Teheran menawarkan konsep ‘Aliansi Delapan’ sebagai solusi untuk membangun kawasan yang makmur tanpa campur tangan militer Barat.

Namun, tawaran ini datang di tengah situasi yang sangat panas. Washington saat ini sedang menekan negara-negara Arab di Teluk untuk bergabung dalam koalisi perang bersama AS dan Israel.

Presiden AS, Donald Trump, kabarnya terus melobi para pemimpin Arab untuk melegitimasi kampanye militernya terhadap Iran. Meski begitu, Enayati mengklaim Teheran terus menjalin kontak dengan Riyadh guna memastikan wilayah darat, laut, dan udara Arab Saudi tidak digunakan oleh AS untuk menyerang Iran.

Meski Iran menawarkan damai, suasana di ibu kota negara-negara Teluk justru diliputi kecemasan luar biasa. Sejak perang pecah pada 28 Februari, lebih dari 2.000 serangan rudal dan drone (pesawat nirawak) telah menghantam berbagai infrastruktur penting di enam negara Teluk, termasuk kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi.

“Iran telah melewati semua batas,” ungkap Abdulaziz Sager, Ketua Gulf Research Center.

Menurutnya, meski awalnya negara-negara Teluk menentang perang, serangan Iran ke fasilitas sipil dan ekonomi mengubah persepsi mereka.

Kini, muncul dorongan kuat agar militer AS tidak berhenti di tengah jalan dan benar-benar melumpuhkan kapasitas serangan Iran.

Kekhawatiran utama para pemimpin kawasan adalah keberanian Teheran dalam menyandera jalur energi global.

Selat Hormuz, yang menjadi urat nadi pengiriman seperlima minyak dunia, kini berada dalam ancaman konstan.

Serangan Iran bulan ini tidak hanya merusak fisik bangunan, tetapi juga meruntuhkan citra stabilitas yang selama ini dibangun untuk menarik turis dan investor asing.

Bagi para pemimpin Teluk, membiarkan Iran tetap memiliki kekuatan militer ofensif (kemampuan menyerang) sama saja dengan hidup dalam ancaman permanen. “Jika AS mundur sebelum tugas selesai, kami akan menghadapi Iran sendirian,” tambah Sager.

Kini, kawasan Timur Tengah berada di persimpangan jalan, menyambut ajakan Iran untuk membentuk aliansi lokal yang mandiri, atau mendukung penuh serangan AS-Israel demi melemahkan kekuatan militer Teheran secara total.

(Agus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *