Targetberita.co.id Gorontalo, Ketua Forum Komunitas Hijau (FKH) Kabupaten Pohuwato, Abdul Hamid Toliu, melontarkan kritik pedas terhadap aparat penegak hukum (APH) dan Forum Koordinasi Pemerintah Daerah (Forkopimda).
Dalam pernyataan kerasnya pada Sabtu (03/01/2026), Hamid menuntut dihentikannya pola penertiban “basa-basi” yang dinilai gagal total mencegah bencana di Pohuwato.
Hamid menegaskan bahwa hukum di Pohuwato tidak boleh tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Ia mendesak agar APH melakukan penertiban tanpa tebang pilih.
Seluruh aktivitas yang melanggar undang-undang harus disapu bersih tanpa kompromi atau perlindungan terhadap pihak-pihak tertentu.
”Kami minta ketegasan! Jangan ada tebang pilih. Jalankan undang-undang dan peraturan yang berlaku secara murni, bukan berdasarkan pesanan atau kepentingan sesaat,” ujar Hamid dengan nada tinggi.
”Yang paling mengejutkan, Hamid secara terang-terangan menyatakan bahwa pendekatan “humanis” dalam penegakan hukum lingkungan sudah tidak relevan lagi.
Ia menilai narasi humanis hanya dijadikan tameng bagi para perusak alam untuk terus beroperasi tanpa rasa takut.
”Berkaca dari kejadian beberapa bulan lalu, penindakan secara humanis itu sudah tidak zaman! Hasilnya apa? Alam hancur, rakyat kecil justru jadi korban bencana,” cetusnya.
Hamid menyoroti rentetan bencana yang menghantam Pohuwato baru-baru ini, mulai dari tanah longsor hingga banjir bandang yang merugikan masyarakat luas.
Menurutnya, ini adalah bukti nyata kegagalan pengawasan dan penindakan di lapangan.
Ia mengingatkan Forkopimda bahwa membiarkan perusakan lingkungan dengan alasan “ruang mencari rezeki” yang tidak terkontrol adalah bom waktu yang kini sudah meledak.
Di sisi lain, menghadapi bulan suci Ramadhan yang segera tiba, Hamid tetap meminta pemerintah memberikan ruang bagi masyarakat lokal untuk mencari nafkah.
Namun, ia memberi catatan bahwa beri ruang mencari nafkah bukan berarti legalitas untuk merusak alam secara arogan.
”Masyarakat lokal butuh makan, tapi mereka juga butuh keselamatan. Jika APH tetap lembek dan membiarkan kerusakan terus terjadi atas nama kemanusiaan yang semu, maka bersiaplah menghadapi bencana yang lebih besar,” tutup Hamid.
(Red)












