Targetberita.co.id Bandung – Jawa Barat, Langkah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), pinjam Rp2 triliun ke Bank bjb kini menjadi pembicaraan hangat.
Namun, di balik angka fantastis itu, ada narasi pengorbanan personal yang jarang dimiliki kepala daerah lain.
Di saat banyak pejabat daerah mulai melirik skema pinjaman serupa, mereka seolah lupa bahwa langkah KDM bukan sekadar soal administrasi bank, melainkan soal integritas moral.
KDM menunjukkan bahwa sebelum “menaruh beban” di pundak APBD Jabar, ia lebih dulu memangkas beban yang ia timbulkan sendiri.
Sebut saja anggaran perjalanan dinas yang ia “gebrak” dari Rp. 1,5 miliar menjadi hanya Rp. 100 juta setahun.
Baca Juga : Menparekraf Sandiaga Salahudin Uno Ajak SMSI Bangkitkan Wisata Indonesia
Belum lagi dana operasional Rp. 21 miliar yang tak ia sentuh untuk kepentingan protokoler, melainkan habis dibagikan kepada anak sekolah yang tak punya ongkos dan warga sakit yang butuh pertolongan cepat.
Di tahun 2026 ini, saat gaji Gubernur Jabar hanya menyentuh Rp. 8,1 juta, KDM memilih hidup dari kantong pribadinya sebagai konten kreator YouTube.
Ia tidak lagi menyusu pada anggaran negara untuk sekadar pakaian atau kemewahan perjalanan.
“Pendapatan saya dari YouTube bisa mengurangi beban rakyat Jabar,” ujarnya santai dalam salah satu wawancara yang viral di medsos baru-baru ini.
Kalimat ini seolah menjadi tamparan bagi para kepala daerah lain yang gemar mengeluh defisit anggaran, namun tetap menikmati fasilitas tunjangan rumah dinas, mobil mewah, hingga perjalanan dinas yang penuh seremoni.
Sindrom “Asal Acc” di Daerah Lain
Langkah pinjaman Rp. 2 triliun ini murni diarahkan untuk memecah kebuntuan infrastruktur, seperti akses stasiun Whoosh Padalarang dan underpass Cimahi.
Keseriusan ini dibuktikan dengan target pelunasan yang “haram” melompati masa jabatannya.
KDM tidak ingin meninggalkan warisan utang, melainkan warisan manfaat.
Ironisnya, langkah strategis ini kini mulai dijadikan tameng oleh sejumlah kepala daerah lain agar permohonan pinjamannya di-acc oleh bank.
Mereka ingin meminjam uang dengan dalih “mencontoh Jabar”, namun di saat yang sama, mereka masih enggan memotong anggaran gaya hidup mereka yang selangit.
KDM meminjam uang untuk membangun Jabar karena ia telah mengembalikan hak-hak pribadinya ke rakyat.
Sementara di tempat lain, ada yang ingin meminjam uang untuk membangun daerah, namun tetap enggan melepas satu persen pun kenyamanan kursinya.
Pinjaman Jabar adalah pinjaman atas nama darurat pembangunan, bukan pinjaman untuk menutupi ketidakmampuan mengelola anggaran yang dikorupsi oleh gaya hidup birokrasi yang gemuk dan serampangan.
(Red)












