logo tb
BeritaJakartaMetropolitanNasionalNewsTerkini

Ketum KSPSI: Perkembangan di Timur Tengah ‘Ngeri-Ngeri Sedap’, Buruh Harus Tahu

62
×

Ketum KSPSI: Perkembangan di Timur Tengah ‘Ngeri-Ngeri Sedap’, Buruh Harus Tahu

Sebarkan artikel ini

Targetberita.co.id Jakarta, Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jumhur Hidayat mengaku cemas dengan perkembangan perang antara AS-Israel melawan Iran di Timur Tengah.

“Suasana sekarang ini memang ngeri-ngeri sedap, Kaum buruh harus mengerti juga hari demi hari, minggu demi minggu apa yang akan terjadi, dan kalau terjadi dampaknya seperti apa kepada kita,” kata Jumhur saat mengantarkan Diskusi Forum Urun Rembug Serikat Buruh, di Hotel Midtown Jl. TB Simatupang, Jaksel, Selasa (10/3/2026) sore.

Jumhur mengaku mendapat laporan dari salah seorang yang bekerja di perusahaan otomotif di tanah air, bahwa otomotif kita itu 65% ekspor. Dari jumlah itu 50% ke Timur Tengah, dan sekarang stop semua. Jadi artinya kira-kira 30% produksi yang biasanya dilakukan sekarang stop.

“Kalau 30% distop berapa lama jangka waktunya bisa ketahuan berapa ribu buruh yang bakal di-PHK dan sebagainya. Itu baru satu sektor,” tutur Jumhur.

Untuk itu pihaknya sengaja melakukan diskusi dengan mengundang ekonom Dr. Fadhil Hasan dari INDEF, dan Dr. Teguh Santosa dari Great Institute untuk benar-benar mengetahui apa dampak yang bakal terjadi akibat ekslasi perang di Timur Tengah.

Menambahkan Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Moh Jumhur Hidayat mengakui kalau perang di Timur Tengah terus berlanjut akan berdampak yang luar biasa kepada kaum buruh karena boleh jadi industri akan berhenti.

“Kalau dollar naik ke atas, kita kesulitan bahan baku, industri juga akan berhenti,” terang Jumhur.

Sekarang saja, lanjut Ketua Umum KSPSI itu, sudah ada laporan manufacturing kita yang ekspor ke Timur Tengah sudah berhenti, misalnya otomotif yang 65% ekspor, dan 50%nya ke Timur Tengah. Artinya sekarang 30% drop.

“Ini kan dampaknya luar biasa 30% industri drop. Ini satu masalah dari satu sektor saja yang jika berlanjut tentu akan semakin parah,” ucap Jumhur.

Namun ia meyakini tentu ada mekanisme kita sebagai bangsa bisa mengatasi ini.

Ia bersyukur karena Indonesia itu termasuk negara yang international linkagenya masih kecil.

Global supplay chain kita masih kecil sekali. Itu artinya tingkat ketergantungan kita pada dunia internasional jauh lebih kecil dibanding dengan negara-negara tetangga.

Menurut Jumhur volume perdagangan kita cuma 600 milyar dollar, Ia membandingkan dengan Malaysia di atas 700 miliar dollar, singapore 550 miliar dollar padahal penduduk cuma 3 juta.

“Artinya, hubungan kita dengan luar negeri relatif jauh lebih rendah sehingga ketika ada masalah di luar negeri tidak memukul kita habis-habisan,” pungkas Jumhur

(Agus)

Penulis: AgusEditor: Niken

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *