Targetberita.co.id Jakarta, Pusat Kerja Sama (Puskersin) TNI tengah menyusun strategi arah diplomasi pertahanan yang adaptif dalam menghadapi dinamika geopolitik global dan kawasan.
Penyusunan strategi itu dibahas dalam rapat kerja teknis kerja sama internasional TNI (Rakerniskersin TNI) tahun anggaran 2025 yang bertema “Evaluasi Kersin untuk Peningkatan Kemampuan Diplomasi Militer TNI” di Aula Satpamwal Denma Mabes TNI, Rabu (26/11) lalu.
Rapat diikuti oleh para pejabat perwakilan dari tiga matra dan unsur terkait di lingkungan Markas Besar TNI serta Perwira Staf Puskersin TNI.
Dalam sambutannya, Kepala Pusat Kerja Sama Internasional (Kapuskersin) TNI Laksma Donny Suharto menekankan pentingnya rapat kerja sebagai wadah penyamaan persepsi, perumusan kebijakan, dan penguatan kapabilitas diplomasi militer.
“Dalam konteks pertahanan modern, kemampuan melakukan diplomasi militer yang terarah, berbasis data, dan responsif terhadap perubahan global merupakan sebuah keharusan strategis,” kata Donny dalam siaran pers Pusat Penerangan TNI, dikutip Sabtu (29/11).
Donny juga menyampaikan analisis akademik terkait perkembangan lingkungan strategis global yang kini berada dalam situasi volatil, uncertain, complex, dan ambiguous (VUCA).
“Persaingan kekuatan besar di Indo-Pasifik, konflik berkepanjangan di berbagai kawasan, disrupsi teknologi seperti AI generatif dan autonomous weapon systems, serta ancaman non-tradisional menjadi faktor yang harus diantisipasi TNI dalam merumuskan arah kerja sama internasional,” kata dia.
Lebih lanjut, Kapuskersin menyoroti kondisi regional Indo-Pasifik yang tengah memasuki fase sangat menentukan, termasuk dinamika Laut Cina Selatan (LCS), isu Selat Taiwan, konflik domestik Myanmar, serta rivalitas India-Pakistan.
Indonesia, menurut Donny, perlu menghadirkan kebijakan luar negeri yang pre-emptive, konstruktif, dan kredibel, sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif sebagai instrumen untuk menjaga otonomi strategis dan stabilitas kawasan.
Terkait arah kebijakan pertahanan, Kapuskersin menegaskan bahwa era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto memberi penekanan pada diplomasi pertahanan yang proaktif, modernisasi postur TNI yang sejalan dengan kerja sama internasional, serta kemitraan yang selektif dan berorientasi pada peningkatan kapabilitas TNI.
Donny juga menekankan peran strategis Puskersin TNI dalam mencetak diplomat militer yang adaptif dan kompeten melalui pembinaan profesi, peningkatan kemampuan analitis, penguasaan negosiasi, serta pemahaman geopolitik kawasan.
“Kita memiliki tanggung jawab bersama untuk menyelaraskan pemahaman strategis lintas angkatan, mengevaluasi efektivitas kerja sama internasional, dan membangun kerangka diplomasi pertahanan yang adaptif terhadap pergeseran geopolitik,” tutur Donny.
Donny menyebutkan, penyusunan grand strategy diplomasi militer TNI menjadi kebutuhan mendesak agar setiap langkah kerja sama memiliki nilai strategis.
“Selaras dengan kepentingan nasional, mendukung daya tangkal TNI, dan memperkokoh posisi Indonesia sebagai credible regional actor,” ujar Donny.
Kapuskersin TNI mengajak seluruh peserta rakernis berpartisipasi aktif dan memberikan rekomendasi konstruktif untuk peningkatan efektivitas diplomasi militer TNI di tengah dinamika global yang terus berkembang.
(Agus)












