logo tb
BeritaDaerahKab. Kubu RayaKalimantan BaratNasionalNewsPendidikanTerkiniTNI / POLRI

MBG Diantar Mobil TNI AU Ditolak PAUD di Kuala Dua Kubu Raya, Diduga Sering Terlambat dan Makanan Bermasalah

62
×

MBG Diantar Mobil TNI AU Ditolak PAUD di Kuala Dua Kubu Raya, Diduga Sering Terlambat dan Makanan Bermasalah

Sebarkan artikel ini

Targetberita.co.id Kab. Kubu Raya – Kalimantan Barat, Sebuah video yang diunggah akun media sosial Rumba Barat memperlihatkan mobil angkutan Makan Bergizi Gratis (MBG) bertuliskan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) TNI AU viral dan beredar luas di media sosial.

Video tersebut menjadi sorotan setelah pihak sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bersama wali murid di Kuala Karya, Desa Kuala Dua, Kabupaten Kubu Raya, memutuskan menolak distribusi makanan bergizi yang diantar menggunakan kendaraan tersebut.

Keputusan penolakan diambil setelah adanya komunikasi dan pembahasan antara pihak sekolah dan para orang tua murid terkait sejumlah persoalan yang dinilai merugikan siswa.

“Setelah melalui komunikasi yang intens dengan pihak sekolah, akhirnya kami putuskan untuk tidak menerima makanan bergizi atau MBG yang masuk ke sekolah ini,” ungkap salah satu pengurus PAUD yang mengenakan seragam merah manggis dan celana putih.

Ia menjelaskan, terdapat beberapa alasan utama yang menjadi dasar penolakan. Salah satunya terkait jadwal pengantaran makanan yang dinilai tidak sesuai dengan waktu kegiatan belajar siswa.

Menurutnya, murid PAUD biasanya telah pulang pada pukul 09.30 WIB, sementara makanan MBG justru kerap tiba sekitar pukul 11.00 WIB.

“Jadwalnya sering terlambat. Murid sudah pulang jam 9.30 WIB, sementara MBG datang pukul 11.00. Ini jaraknya sudah terlalu jauh,” jelasnya.

Selain persoalan keterlambatan, pihak sekolah juga menyoroti kualitas makanan yang diterima. Pengurus PAUD tersebut menyebutkan bahwa makanan yang diantar beberapa kali ditemukan dalam kondisi tidak layak konsumsi.

“Kemudian yang kedua, makanan yang diantar itu sudah tiga kali ayamnya busuk. Inilah rasa kekecewaan kami yang pada akhirnya membuat kami sepakat bersama orang tua murid untuk tidak menerima MBG,” katanya.

Ia menegaskan, program makanan bergizi seharusnya mengutamakan kualitas, kebersihan, serta ketepatan waktu distribusi agar benar-benar bermanfaat bagi anak-anak.

“Seharusnya dapur MBG itu makanannya segar dan steril. Waktunya juga tepat sesuai jam istirahat murid. Tetapi yang terjadi justru jauh berbeda dari kondisi di lapangan,” tambahnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak terkait mengenai polemik tersebut. Media ini masih berupaya melakukan penelusuran dan konfirmasi lebih lanjut kepada instansi berwenang.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *