Targetberita.co.id Riau, Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan, temuan 1.000 ton beras ilegal dalam sidak di Tanjung Balai Karimun pada 19 Januari 2026 berdampak serius terhadap semangat petani dan keberlanjutan pertanian nasional, bukan hanya menimbulkan kerugian negara.
“Dampak yang jauh lebih berbahaya adalah efek lanjutannya, petani menjadi demotivasi untuk berproduksi, serta meningkatnya risiko masuknya penyakit melalui komoditas ilegal,” kata Amran saat diwawancarai di Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Dia menjelaskan, Indonesia memiliki sekitar 115 juta petani yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
Di tengah kondisi produksi beras nasional yang saat ini surplus, masuknya beras ilegal berpotensi menekan harga gabah di tingkat petani.
Menurut Amran, penurunan harga gabah sekecil apa pun dampaknya sangat besar bagi petani. Jika harga gabah turun Rp 1.000 per kilogram, petani dengan lahan satu hektare bisa kehilangan pendapatan sekitar Rp. 5 juta.
Petani dengan lahan setengah hektare berpotensi kehilangan Rp. 2,5 juta, sementara yang mengelola sepertiga hektare bisa merugi sekitar Rp. 1,5 juta.
“Bagi petani, kehilangan Rp. 10 ribu, Rp. 50 ribu, bahkan Rp. 100 ribu itu sangat berarti,” ungkap Amran.
Selain dampak ekonomi, Amran juga mengingatkan bahaya masuknya penyakit melalui komoditas ilegal.
Dia mencontohkan kasus penyakit hewan di masa lalu yang menyebabkan populasi sapi nasional turun drastis hingga kehilangan sekitar 6 juta ekor, dengan potensi kerugian mencapai triliunan rupiah.
“Temuan bawang bombai ilegal sebelumnya saja juga membawa penyakit yang tidak ada di Indonesia. Hal ini yang perlu kita perhatikan. Kalau ini masuk ke tanaman pangan kita, risikonya sangat besar. Karena itu semua komoditas harus melalui prosedur resmi, karantina, dan mekanisme perpajakan yang jelas,” kata Amran.
Tokoh dari Sulawesi Selatan ini menilai praktik penyelundupan pangan sebagai tindakan yang mencederai kepentingan bangsa dan petani.
“Ini pengkhianatan terhadap petani. Tidak ada kemanusiaannya, tidak cinta Merah Putih. Karena itu kami minta diberi sanksi berat, jangan diberi ampun. Barangnya harus dimusnahkan dan tidak boleh beredar,” tegas dia.
Amran menekankan pentingnya keterlibatan seluruh pihak untuk memperketat pengawasan, memastikan prosedur karantina dijalankan, serta mencegah dampak lanjutan berupa penyakit dan melemahnya semangat petani.
“Yang kita jaga bukan hanya angka, tapi masa depan petani dan ketahanan pangan bangsa,” pungkas Amran.
(Red)












