logo tb
BeritaJakartaMetropolitanNasionalNewsTerkiniTNI / POLRI

Ogah Disadap Lagi Seperti 1999, TNI AL Prioritaskan Bangun C6ISR

120
×

Ogah Disadap Lagi Seperti 1999, TNI AL Prioritaskan Bangun C6ISR

Sebarkan artikel ini

Targetberita.co.id Jakarta, TNI AL kini memprioritaskan pembangunan sistem saraf digital canggih bernama C6ISR.

Langkah ini bertujuan untuk memperkuat kedaulatan informasi agar pihak asing tidak bisa lagi menyadap instruksi tempur kapal perang RI.

Kepala Pusat Pengkajian Maritim (Kapusjianmar) TNI AL, Laksma TNI Dr. Salim, membeberkan alasan strategis di balik kebijakan tersebut.

Salim berkaca pada pengalaman pahit saat konflik Timor Timur meletus pada tahun 1999.

Kala itu, pihak asing mampu menembus saluran radio kapal perang TNI AL dengan sangat mudah.

Penyadapan ini tentu saja membahayakan pergerakan pasukan Indonesia karena musuh bisa memantau seluruh instruksi tempur di udara.

Demi mengelabuhi penyadap, para prajurit TNI AL terpaksa menggunakan bahasa daerah seperti Jawa atau Madura saat berkoordinasi.

Langkah kreatif ini terpaksa mereka ambil agar pihak lawan bingung memahami isi perintah rahasia tersebut.

“Prajurit kita terpaksa memakai bahasa daerah karena sistem komunikasi kita bocor. Ini menjadi pelajaran sangat berharga bagi kita,” kenang Salim dalam diskusi strategis di Jakarta baru-baru ini.

Namun, Salim menegaskan TNI AL tidak bisa terus mengandalkan bahasa daerah dalam peperangan modern.

Musuh masa kini memiliki teknologi pemecah kode yang jauh lebih canggih dan cepat.

Oleh sebab itu, TNI AL kini memfokuskan energi untuk membangun kekuatan C6ISR. Istilah teknis ini merujuk pada sistem saraf pusat digital yang menyatukan komando, kendali, komunikasi, komputer, siber, intelijen, pengawasan, hingga pengintaian dalam satu jaringan terpadu.

Jaringan saraf pintar ini menyatukan radar, satelit, dan sistem senjata di kapal perang ke dalam satu jalur komunikasi yang tertutup rapat.

Sistem ini menjamin setiap perintah tempur sampai ke garis depan dengan sangat cepat tanpa celah kebocoran data.

Pembangunan C6ISR menjadi kunci krusial saat Indonesia bertransformasi menuju Blue Water Navy atau angkatan laut yang dapat beroperasi lintas samudra dan secara global.

Salim meyakini, penguasaan teknologi komunikasi menjadi modal utama untuk menjaga harga diri dan kedaulatan maritim Indonesia di masa depan.

(Agus)