banner
BeritaBudayaDaerahInternasionalNewsPendidikan

Opini dalam Kontrovesi Penolakan Rohingya di Aceh

258
×

Opini dalam Kontrovesi Penolakan Rohingya di Aceh

Sebarkan artikel ini

Target Berita.co.id Dunia Kampus, Menjaga Keamanan atau Menyuarakan Kemanusiaan, Aceh dalam Kontroversi Penolakan Rohingya
Aceh, provinsi yang terkenal dengan semangat kemanusiaannya, kini berada dalam sorotan kontroversi akibat kebijakan penolakan terhadap pengungsi Rohingya yang mencoba mendarat di wilayah tersebut.

Aceh yang sejak dulu dikenal sebagai daerah dengan memiliki tekad kuat dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kini justru mengalami konflik kontroversi, antara nilai kemanusiaan atau keamanan, pasalnya pengalaman panjang sebagai wilayah konflik dan bencana alam yang pernah terjadi di wilayah Aceh, memberikan pemahaman yang mendalam tentang betapa pentingnya bantuan dan dukungan dalam mengatasi krisis kemanusiaan.

Penolakan terhadap pengungsi Rohingya diwilayah aceh, telah membuka diskusi mengenai batas kemanusiaan di tengah kekhawatiran akan stabilitas dan keamanan lokal, Salah satu argumen yang diperkuat oleh pihak yang mendukung penolakan ini adalah keamanan. Mereka berpendapat bahwa menerima pengungsi Rohingya dapat membuka peluang bagi infiltrasi kelompok ekstremis atau bahkan menyebabkan gangguan keamanan di tingkat lokal.

Aceh, yang saat ini sedang dalam proses pemulihan pasca konflik, mungkin merasa perlu untuk fokus pada stabilitas internalnya.
Namun, pandangan ini tidak lepas dari kritik. Banyak kalangan yang menyatakan bahwa alasan keamanan ini seharusnya tidak melupakan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi ciri khas Aceh.

Menyambut pengungsi Rohingya bukan hanya tindakan moral, tetapi juga mencerminkan solidaritas kemanusiaan yang sejalan dengan semangat perdamaian yang diperjuangkan oleh Aceh selama bertahun-tahun, pengungsi Rohingya adalah kelompok yang telah mengalami penderitaan yang luar biasa, baik persekusi, pembantaian, dan pengusiran dari tanah air mereka sendiri telah menjadi kisah harian bagi ribuan orang Rohingya.

Penolakan terhadap pengungsi Rohingya yang telah menjadi korban persekusi, pembantaian dan pengusiran dari tanah air mereka, menciptakan pertanyaan etis yang mendalam tentang sejauh mana kita bersedia mempertaruhkan nilai-nilai kemanusiaan demi keamanan lokal.

Aceh, sebagai bagian dari komunitas internasional, yang pernah diberikan ujian dalam hal bencana alam, serta mendapatkan bantuan kemanusian dari berbagai negara, seharusnya mengkaji kembali tentang nilai nilai luhur kemanusian dan dengan mempertimbangkan tanggung jawab globalnya.

Penolakan pengungsi Rohingya dapat memberikan kesan bahwa Aceh menarik diri dari kewajiban internasionalnya dalam mengatasi krisis pengungsi yang telah menjadi masalah dunia, hal ini bisa merusak reputasi Aceh sebagai pelopor kemanusiaan dan perdamaian di tingkat internasional.

Kritik terhadap penolakan ini juga menyoroti ketidak setaraan dalam pendekatan terhadap krisis pengungsi, pasalnya Aceh, yang sejauh ini dikenal dengan kepedulian dan
keberlanjutan, menutup pintu untuk mereka yang membutuhkan perlindungan.

Pertanyaan ini tidak hanya mencerminkan ketidaksetaraan dalam tanggapan global terhadap krisis kemanusiaan, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi nilai-nilai kemanusiaan di tingkat internasional.

Sebuah solusi yang mungkin dapat dijajaki adalah pendekatan yang seimbang antara keamanan dan kemanusiaan. Aceh dapat mengimplementasikan langkah-langkah keamanan yang ketat sambil tetap mematuhi nilai-nilai kemanusiaan yang telah menjadi identitasnya, hal ini dapat melibatkan kerjasama dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan bahwa penerimaan pengungsi dilakukan dengan prosedur yang terkontrol dan tidak mengancam keamanan.

Selain itu, Aceh dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk menjadi pelopor dalam mencari solusi jangka panjang terhadap krisis pengungsi, dengan bekerja sama terhadap pihak-pihak terkait.

Aceh dapat berkontribusi pada upaya penyelesaian konflik dan pemulihan daerah asal pengungsi, dengab demikian tidak hanya akan membangun reputasi Aceh sebagai pemimpin kemanusiaan, tetapi juga dapat memberikan kontribusi nyata untuk menyelesaikan akar permasalahan.

Dalam menghadapi kontroversi penolakan terhadap pengungsi Rohingya, Aceh dihadapkan pada pilihan yang sulit antara menjaga keamanan lokal dan menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan, hal yang sangat penting bagi Aceh untuk menjalani proses pengambilan keputusan ini dengan bijak, mempertimbangkan dampak jangka panjang dan memastikan bahwa kebijakan yang diambil sejalan dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan yang telah menjadi ciri khas daerah ini.

(Musdalifah, Mahasiswi IAIN Pare Pare)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *