Scroll untuk baca artikel
Whats-App-Image-2026-03-14-at-19-21-23
logo tb
BeritaJakartaMetropolitanNasionalNewsTerkini

Pengamat Nilai PAM Jaya Siap Penuhi Kebutuhan Air Jakarta Saat Kemarau Ekstrem April 2026

70
×

Pengamat Nilai PAM Jaya Siap Penuhi Kebutuhan Air Jakarta Saat Kemarau Ekstrem April 2026

Sebarkan artikel ini

Targetberita.co.id Jakarta, Pengamat kebijakan publik Sugiyanto menilai PAM Jaya mampu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Jakarta saat musim kemarau ekstrem yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika terjadi pada April 2026.

Menurut Sugiyanto, persoalan utama dalam menghadapi kemarau terletak pada ketersediaan sumber air baku, namun hal tersebut dinilai telah diantisipasi dengan baik oleh PAM Jaya melalui penguatan pasokan dan infrastruktur.

“Persoalan utama dalam menghadapi kemarau yang perlu dicermati adalah ketersediaan sumber air baku dan ini sudah diatasi dengan baik,” kata Sugiyanto di Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Ia menjelaskan sekitar 92 persen atau 19.400 liter per detik pasokan air baku PAM Jaya selama ini berasal dari luar Jakarta, terutama dari Waduk Jatiluhur yang dikelola melalui kerja sama dengan pemerintah pusat, khususnya Kementerian PUPR.

Sementara itu, sekitar 8 persen atau 2.750 liter per detik sisanya berasal dari berbagai sumber air permukaan di Jakarta, seperti Sungai Krukut, Cengkareng Drain, Kanal Banjir Barat, Sungai Pesanggrahan, Kali Ciliwung, Sodetan Sungai Cisadane, Kali Mookervart, serta sumber lain termasuk air laut.

Untuk mendukung layanan air bersih, PAM Jaya telah membangun berbagai instalasi pengolahan air (IPA) dan sistem penyediaan air minum (SPAM) yang tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Buaran I, II, dan III, Pejompongan I dan II, Pesanggrahan, Cilandak, Ciliwung, hingga Taman Kota.

Jumlah instalasi tersebut akan terus ditingkatkan dengan target mencapai 18 unit hingga akhir 2029 guna memperkuat kapasitas produksi dan distribusi air bersih.

Selain itu, PAM Jaya juga menjajaki penambahan sumber air baku dari Bendungan Karian yang saat ini masih dalam proses kerja sama lanjutan. Bendungan ini diproyeksikan memiliki kapasitas produksi total sekitar 22.150 hingga 22.265 liter per detik.

Sugiyanto menilai infrastruktur tersebut menjadi tulang punggung dalam menjaga kesinambungan pasokan air, termasuk saat menghadapi kemarau panjang.

Dari sisi sumber air baku, ketergantungan terbesar memang berasal dari Waduk Jatiluhur.

Namun, ia menilai kecil kemungkinan waduk tersebut mengalami kekeringan total, meskipun dalam kondisi kemarau ekstrem.

Menurut dia, kondisi yang lebih mungkin terjadi adalah penurunan muka air akibat minimnya curah hujan.

Dalam situasi tersebut, langkah antisipatif seperti teknik modifikasi cuaca atau hujan buatan biasanya dilakukan untuk menjaga stabilitas volume air waduk.

Sementara itu, kontribusi dari sungai-sungai di Jakarta dinilai tidak akan mengalami kekeringan total, melainkan hanya penurunan debit air akibat berkurangnya curah hujan di wilayah hulu seperti Bogor dan kawasan Puncak.

(Daniel Turangan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *