logo tb
BeritaJakartaMetropolitanNasionalNewsTerkiniTNI / POLRI

Mengenang Jenderal Agus Widjojo, Sang Tentara Intelektual

38
×

Mengenang Jenderal Agus Widjojo, Sang Tentara Intelektual

Sebarkan artikel ini

Targetberita.co.id Jakarta, “Pertemuan yang berhari-hari dengannya memberi kesan bahwa Agus Widjojo merupakan jenderal intelektual yang fasih pemikiran politik dan militer dalam konteks perubahan jaman,” begitulah kata Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini mengenang sosok Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo yang meninggal dunia pada Minggu (8/2/2026) malam, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Agus adalah Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Filipina sekaligus Eks Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) periode 2016-2022.

Ia juga seorang mantan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat mewakili Fraksi TNI/Polri periode 2001-2003.

Rachbini mengisahkan mengenal Jenderal Agus Widjojo sejak awal 1990-an ketika bersama-sama merancang dan melaksanakan seminar Angkatan Darat kedua di Bandung.

“Kalangan intelektual sipil seperti saya dan banyak kawan-kawan yang lain nyaman bertukar pikiran dengan Agus Widjojo. Selain santun dan ramah, pemikirannya sangat bernas dan menjunjung pemikiran profesionalisme TNI dan sekaligus suppremasi sipil,” kata Rachbini.

Lebih lanjut di kalangannya kata Rachbini, Agus sering disebut “tentara intelektual atau perwira intelektual” karena posisinya yang khusus dan unik, yakni sebagai elite militer dan perwira tinggi TNI, tetapi sekaligus pemikir strategis yang konsisten mendorong demokratisasi.

“Pemikirannya tentang profesionalisme militer dan supremasi sipil tidak lain untuk tujuan yang dipikirkannya, demokrasi modern dimana masyarakat madani seimbang dalam Trias Politica, yakni eksekutif, legislatif dan yudikatif. Pemikirannya di bidang politik dan militer sangat berpengaruh terutama pada masa transisi Reformasi,” kata Rachbini.

Arsitek Intelektual yang Menutup era Dwifungsi ABRI

Menurut Rachbini, Agus adalah salah satu arsitek intelektual yang menutup era Dwifungsi ABRI. Agus berpandangan bahwa militer yang profesional, kuat dan paham peranan sejatinya sebagai benteng tanah air justru lahir dari demokrasi, bukan dari kekuasaan politik pragmatis di lapangan.

“Keterlibatan militer dalam dalam kehidupan sosial politik praktis justru melemahkan profesionalisme TNI. Bagi Agus kekuasaan politik harus sepenuhnya berada di tangan sipil yang dipilih secara demokratis. Institusi militer mesti tunduk pada konstitusi dan hukum, bukan “penjaga kekuasaan”, melainkan alat negara untuk pertahanan,” terang Rachbini.

Lebih lanjut Rachbini mengatakan di kalangan perwira senior banyak yang pemikiran dan wawasannya sangat luas dalam bidang sosial politik dan tepat disebut sosok perwira intelektual.

Selain Agus Widjojo, kita kenal almarhum Jenderal Sajidiman Suryohadiprodjo, Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jenderal ZA Maulani dan Jenderal Prabowo Subianto.

“Kita kenal pemikiran SBY dan think tank yang didirikannya, yakni Brighten Institute dan sekarang The Yudhoyono Institute. Sementara Prabowo dan kawan-kawan (Din Syamsuddin, Fadli Zon, dkk) pernah mendirikan lembaga think tank CPDS (Center for Policy and Development Studies).

Namun di kalangan jenderal dan perwira sekarang kita sulit mengenali tentara intelektual seperti Agus widjojo dan kawan-kawan,” kata Rachbini.

Di Lemhanas, lanjut Rachbini fungsi intelektual dan strategisnya Agus terus berjalan menyebar ke kalangan elit pemimpin pemerintahan.

Lemhanas yang dipimpinnya adalah dapur pemikiran negara (state strategic thinking), yang membentuk cara pandang elite memahami dinamika sistem modern, civil societym, geoekonomi dan geopolitik.

“Pendek kata intelektualisme Agus Widjojo lengkap dan komprehensif, yang belum tentu ada penggantinya,” kata Rachbini.

(Agus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *