logo tb
BeritaJakartaMetropolitanNasionalNewsTerkiniTNI / POLRI

Evaluasi Pengawasan RS Polri Kramat Jati Usai Tahanan Polsek Tigaraksa Tewas di Ruang Perawatan

99
×

Evaluasi Pengawasan RS Polri Kramat Jati Usai Tahanan Polsek Tigaraksa Tewas di Ruang Perawatan

Sebarkan artikel ini

Targetberita.co.id Jakarta, Jurnalis Mitra Polri (JMP) meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan tahanan di Rumah Sakit Polri Kramat Jati.

Desakan itu muncul setelah seorang tahanan Polsek Tigaraksa ditemukan meninggal dunia di ruang perawatan pada Minggu (26/7/2026) dini hari.

Homestay Kampung Landeuh

Korban diketahui bernama Slamet Widodo (49), Ia merupakan tahanan dalam perkara dugaan pencabulan.

Saat kejadian, Slamet sedang menjalani perawatan di Ruang Melati 2 RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

JMP menilai peristiwa tersebut menjadi perhatian serius. Organisasi itu meminta kepolisian mengevaluasi prosedur pengawasan terhadap tahanan yang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.

Ketua JMP Ikhwan Aziz menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Ia menegaskan setiap tahanan tetap berada dalam tanggung jawab negara.

Menurut Ikhwan, aspek pengamanan dan pengawasan harus menjadi prioritas selama tahanan dirawat di rumah sakit.

“Kami turut berduka atas meninggalnya tahanan tersebut,” kata Ikhwan dalam keterangan tertulis, Minggu (26/7/2026).

Ia menegaskan status hukum seseorang tidak mengurangi kewajiban negara memberikan pengawasan.

“Setiap tahanan tetap berada dalam tanggung jawab negara,” ujarnya.

Ikhwan meminta aparat mengusut peristiwa itu secara terbuka.

Menurutnya, penyelidikan transparan penting untuk mengetahui penyebab kejadian.

“Peristiwa ini perlu diusut secara transparan,” ucapnya.

Ia mengatakan hasil penyelidikan harus menjelaskan bagaimana korban bisa meninggal di ruang perawatan.

Selain itu, Ikhwan mendorong kepolisian mengevaluasi standar operasional prosedur (SOP) pengawasan tahanan yang menjalani perawatan.

Evaluasi tersebut mencakup sistem penjagaan, penilaian tingkat risiko tahanan, hingga koordinasi petugas pengawal dengan tenaga medis.

Menurut Ikhwan, pemeriksaan terhadap benda yang berpotensi membahayakan diri juga harus diperketat.

“Evaluasi SOP menjadi penting,” kata Ikhwan.

Ia menegaskan evaluasi bukan untuk mencari pihak yang disalahkan.

Sebaliknya, langkah tersebut bertujuan mencegah kejadian serupa pada masa mendatang.

“Tujuannya agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal JMP Arif Yunianto meminta penyelidikan dilakukan secara profesional.

Ia juga meminta aparat bekerja objektif dan menyampaikan hasil penyelidikan kepada masyarakat.

Menurut Arif, keterbukaan informasi akan mengurangi munculnya spekulasi di tengah publik.

“Semua fakta harus diungkap berdasarkan hasil penyelidikan,” kata Arif.

Ia menilai masyarakat berhak mengetahui proses penanganan kasus tersebut.

Publik juga perlu mengetahui apakah seluruh prosedur pengawasan telah dijalankan sesuai ketentuan.

“Transparansi menjadi kunci menjaga kepercayaan masyarakat,” ujarnya.

Arif menambahkan penanganan tahanan yang dirawat di rumah sakit memiliki karakteristik berbeda.

Karena itu, diperlukan koordinasi yang kuat antara petugas pengamanan dan tenaga kesehatan.

Ia menilai setiap institusi memiliki standar operasional masing-masing.

Namun, koordinasi antar lembaga harus berjalan efektif demi menjamin keamanan tahanan.

“Evaluasi menyeluruh perlu dilakukan bila ditemukan celah,” kata Arif.

Menurutnya, hasil penyelidikan nantinya dapat menjadi dasar penyempurnaan sistem pengawasan.

Dengan demikian, prosedur pengamanan dapat diperbaiki sesuai kebutuhan.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun, korban ditemukan meninggal sekitar pukul 02.59 WIB. Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan kepada petugas sekitar pukul 03.30 WIB. Korban pertama kali ditemukan oleh seorang perawat.

Saat itu, perawat sedang melakukan pemeriksaan rutin terhadap pasien.

Perawat mendapati korban dalam kondisi tergantung di ruang perawatan.

Korban diduga menggunakan kain sprei yang diikatkan pada jeruji bagian atas tembok ruangan.

Petugas medis kemudian melakukan pemeriksaan terhadap kondisi korban.

Hasil pemeriksaan menyatakan korban telah meninggal dunia.

Setelah menerima laporan, aparat kepolisian langsung melakukan olah tempat kejadian perkara.

Penyidik juga memeriksa sejumlah saksi untuk mengungkap kronologi kejadian.

Selain itu, polisi membuat laporan resmi sebagai dasar penyelidikan. Barang bukti di lokasi juga telah diamankan untuk kepentingan penyidikan.

Hingga kini, kepolisian masih mendalami penyebab pasti kematian korban.

Penyidik juga terus menyusun kronologi lengkap berdasarkan keterangan saksi dan barang bukti.

Proses penyelidikan masih berlangsung. Polisi belum menyampaikan kesimpulan akhir mengenai penyebab kematian korban.

(Agus)

PT. BULE ADVENTURE BADUY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PT. BULE ADVENTURE BADUY