Targetberita.co.id Pinang Raya – Bengkulu Utara – Bengkulu, Eri Irama, seorang Karyawan Harian Lepas (KHL) PTPN Regional 1, tertahan hampir sepekan di Rumah Sakit Rafflesia, Kota Bengkulu.
Korban kecelakaan kerja ini belum bisa menjalani operasi mata akibat kendala administrasi dan biaya yang kian menipis.Insiden tersebut terjadi pada Kamis (16/7/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.
Saat sedang bekerja di Afdeling III PTPN Regional 1, mata Eri terkena percikan cairan kimia Etrel (zat pengatur tumbuh tanaman).
”Setelah terkena percikan obat Etrel, saya langsung pulang dan melapor ke mandor serta krani. Laporan itu kemudian diteruskan ke pihak vendor, Adkuri,” ujar Eri kepada wartawan, Rabu (5/8/2026).
Data produksi Afdeling III memperkuat kronologi tersebut.
Pada 16 Juli 2026, nama Eri Irama tercatat bekerja dengan perolehan hasil 8,8.
Setelah tanggal tersebut, tidak ada lagi catatan aktivitas produksi atas namanya hingga akhir bulan.
Meski mata korban mengalami luka serius dan membutuhkan penanganan medis segera, tindakan operasi terus tertunda.
Keluarga pasien membeberkan bahwa pihak rumah sakit meminta mereka menunggu dokter spesialis yang menangani korban sejak awal.
Selain itu, status kepesertaan BPJS Kesehatan pasien sempat terdeteksi nonaktif saat kunjungan pertama.
Kondisi ini menjepit posisi Eri. Di satu sisi ia harus bertahan di perantauan demi pengobatan, di sisi lain bekal uangnya sudah habis.
”Saya sudah tiga hari di sini dan disuruh menunggu tiga hari lagi karena harus ditangani dokter yang kemarin. Terpaksa saya tunggu seminggu. Mau pulang tanggung karena jaraknya jauh. Kemarin cuma bawa uang Rp. 400 ribu ditambah bantuan sosial lingkungan Rp. 250 ribu. Sekarang sisa Rp. 200 ribu. Kalau harus nunggu seminggu lagi, saya tidak tahu harus minta tolong ke siapa,” keluh Eri lirih.
Sementara itu, pihak vendor PT Adkuri saat dikonfirmasi menyatakan sedang mengupayakan bantuan finansial untuk korban.
”Nanti kita bantu, sudah kami ajukan ke manajemen. Sebenarnya dari awal pihak pekerja sudah saya suruh mandor untuk mengurus pengaktifan BPJS-nya,” jelas perwakilan vendor ADKURI.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada kepastian jadwal operasi baik dari pihak PTPN Regional 1 maupun manajemen Rumah Sakit Rafflesia.
Eri Irama kini hanya bisa menunggu dalam ketidakpastian dengan sisa ruang gerak ekonomi yang kian kritis.
(Johan SP)
Seminggu Tertahan di RS Rafflesia, Buruh Harian PTPN Regional 1 Terancam Gagal Operasi Mata













