Targetberita.co.id Jakarta, Tokoh keagamaan Hindu, Ida Pandita Putra Bhirudksa, memberikan tanggapan terhadap gagasan yang tertuang dalam dua buku karya Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, yakni Tandur Taru Urip dan Pancekterke Manifesto Pemikiran tentang Transformasi PHD.
Menurut Ida Pandita Putra Bhirudksa, berbagai persoalan yang muncul di tengah kehidupan organisasi maupun komunitas semestinya tidak berhenti pada upaya mengidentifikasi masalah.
Persoalan tersebut perlu dikaji secara bersama-sama untuk menemukan akar permasalahan sekaligus merumuskan jalan keluar.
Ia menilai, setiap individu maupun organisasi tentu memiliki persoalan masing-masing.
Namun, yang jauh lebih penting adalah bagaimana persoalan tersebut dijadikan bahan kajian untuk menghasilkan solusi.
“Persoalan-persoalan itu akan semakin mengkristal, makin jelas, dan tentu yang paling utama diharapkan adalah bagaimana bersama-sama duduk mencari solusi,” ujar Ida Pandita Putra Bhirudksa.
Ia menjelaskan, proses pencarian solusi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dengan latar belakang kemampuan dan keahlian yang berbeda. Potensi yang dimiliki setiap orang, menurutnya, dapat disatukan untuk melihat sebuah persoalan secara lebih utuh.
“Semua kita, dalam pribadi maupun dalam organisasi maupun komunitas, pasti ada persoalan-persoalan. Bagaimana persoalan itu dijadikan kajian untuk menemukan apa akar persoalannya,” katanya.
Setelah akar persoalan ditemukan, lanjut dia, langkah berikutnya adalah duduk bersama untuk menentukan jalan keluar.
Setiap orang dapat memberikan kontribusi berdasarkan kelebihan dan kompetensinya masing-masing.
“Yang punya kelebihan di bidang A, B, C, D, kumpul di situ. Melihat masalah ini, lalu apa way out-nya, jalan keluarnya. Itu kan tugas kita mencari jalan keluar,” tuturnya.
Dalam konteks kepemimpinan, Ida Pandita Putra Bhirudksa menegaskan bahwa seorang pemimpin seharusnya tidak hanya pandai mengidentifikasi atau penghimpun berbagai masalah yang ada.
Pemimpin justru dituntut mampu menawarkan gagasan dan alternatif penyelesaian.
“Pemimpin itu harus banyak menemukan solusi-solusi. Kalau hanya menghimpun masalah, itu bukan pemimpin. Adanya masalah masalah, biar yang lain yang menyampaikan,” tegasnya.
Menurut dia, ketika seorang pemimpin telah mendengar berbagai persoalan dari masyarakat atau anggota organisasi, langkah selanjutnya adalah merumuskan solusi.
Meski solusi yang disampaikan belum selalu bersifat sangat spesifik, gagasan tersebut tetap dapat menjadi bahan pemikiran bersama.
“Begitu pemimpin mendengar, solusi-solusinya gimana? Beliau memberikan beberapa solusi-solusi itu juga, walaupun belum spesifik,” ujarnya.
Ida Pandita Putra Bhirudksa Daksa juga memahami bahwa gagasan tersebut muncul dari seseorang yang selama ini tidak secara langsung berada dalam struktur kepengurusan.
Karena itu, menurutnya, berbagai pemikiran yang ditawarkan tetap perlu dilihat sebagai gagasan positif yang dapat dikembangkan bersama.
“Beliau tidak duduk di kepengurusan selama ini. Jadi mudah-mudahan saja ada harapan kita,” katanya.
Ia juga menyinggung kemungkinan Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana menjadi salah satu kandidat dalam proses demokratisasi organisasi keumatan Hindu ke depan.
Namun, ia menekankan bahwa keputusan akhir tetap berada dalam mekanisme demokratis yang akan berlangsung.
“Beliau menjadi salah satu umat, salah satu kandidat nanti. Tapi secara demokratis kita, nanti akan ada dalam Sibu 13.000. Siapapun nanti terpilih,” kata Ida Pandita Putra Bhirudksa.
Menurutnya, terlepas dari siapa yang nantinya terpilih, gagasan dan pemikiran yang muncul tetap memiliki nilai positif dan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam membangun organisasi ke depan.
“Pemikiran-pemikiran ini tentu hal positif. Siapapun nanti bisa memakai,” pungkasnya.
Ia berharap gagasan tentang pentingnya kepemimpinan yang berorientasi pada solusi dapat menjadi semangat bersama dalam menghadapi berbagai persoalan organisasi dan kehidupan umat.
Dengan duduk bersama, mengurai akar masalah, serta menggabungkan berbagai potensi yang ada, persoalan diharapkan tidak hanya menjadi bahan perdebatan, tetapi dapat melahirkan langkah nyata dan jalan keluar.
(Agus)














