logo tb
BengkuluBeritaDaerahKab. Bengkulu UtaraNasionalNewsTerkini

Ironi Ring 1 PT BAS: Warga Disabilitas di Bukit Makmur 6 Bulan Tak Terima BLT dan Puluhan Tahun Krisis Air Bersih

221
×

Ironi Ring 1 PT BAS: Warga Disabilitas di Bukit Makmur 6 Bulan Tak Terima BLT dan Puluhan Tahun Krisis Air Bersih

Sebarkan artikel ini

‎Targetberita.co.id Bukit Makmur – Kab. Bengkulu Utara – Bengkulu, Nasib pilu menimpa Lubar (53), seorang penyandang disabilitas yang tinggal hanya 600 meter dari pagar PT Bumi Anugrah Sawit (BAS).



‎Di tengah operasional besar perusahaan sawit tersebut, Lubar justru hidup sebatang kara tanpa akses air bersih dan kini harus menghadapi kenyataan pahit: Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang menjadi tumpuan hidupnya mandek selama enam bulan terakhir.

‎Saat dikonfirmasi pada Jumat (8/5/2026), Lubar mengungkapkan kondisinya dengan suara lirih.

‎Keterbatasan fisik membuatnya kesulitan untuk sekadar beraktivitas, apalagi mengambil air.

‎”Saya hidup sendiri, jalan saja susah. Bagaimana mau ambil air ke sumur? Jaraknya 150 meter di bawah sana,” ujar Lubar.

‎Ia mengaku sangat bergantung pada BLT untuk bertahan hidup, namun bantuan tersebut tak kunjung cair tanpa kejelasan alasan.

‎Minim Kontribusi PerusahaanMeski berada di zona Ring 1 perusahaan, perhatian PT BAS terhadap warga sekitar dinilai sangat minim.

‎Selama puluhan tahun, fasilitas air bersih dari perusahaan tidak pernah menyentuh kediaman Lubar.

‎Ironisnya, bantuan sembako rutin yang diterima Lubar justru bukan berasal dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PT BAS, melainkan dari Serikat Pekerja Transport Indonesia (SPTI).

‎Ketua SPTI, Maryoto, membenarkan bahwa bantuan tersebut murni inisiatif organisasi dan hasil swadaya para pekerja bongkar muat untuk masyarakat tidak mampu.

‎Prosedur Rumit dan Pejabat Bungkam

‎Seorang warga yang enggan disebutkan namanya menyebutkan bahwa untuk mendapatkan fasilitas sumur bor dari PT BAS, warga diwajibkan mengajukan proposal yang proses persetujuannya sangat lambat.

‎”RT sebelah saja sudah mengajukan, tapi lama sekali tidak ada kabar. Seperti dipersulit,” ungkapnya.

‎Di sisi lain, upaya verifikasi terus dilakukan.

‎Razid Wahani mengonfirmasi bahwa data Lubar bersama penyandang disabilitas lainnya di Desa Bukit Makmur telah diajukan ke Dinas Sosial bulan lalu untuk menjadi prioritas penerima bantuan.

‎Namun, hingga berita ini diturunkan, pihak-pihak terkait memilih bungkam.

‎Camat setempat, Suharno, tidak memberikan respon saat dikonfirmasi melalui whats app.

‎Begitu pula dengan Humas PT BAS, Leswandi, dan Manajer PT BAS, Irvan, yang tidak memberikan tanggapan terkait krisis air bersih dan mandeknya bantuan bagi warga di wilayah operasional mereka.

‎Kasus Lubar menjadi potret nyata ketimpangan sosial di wilayah industri. Warga berharap Pemerintah Daerah dan manajemen PT BAS segera mengambil langkah nyata untuk memenuhi hak dasar warga disabilitas di sekitar perusahaan.

‎(Johan SP)