logo tb
BeritaJakartaMetropolitanNasionalNewsTerkini

USTAZAH AI DAN HILANGNYA SANAD *Ketika Wajah Bisa Dibuat, Tetapi Amanah Tidak Bisa Dipalsukan*

345
×

USTAZAH AI DAN HILANGNYA SANAD *Ketika Wajah Bisa Dibuat, Tetapi Amanah Tidak Bisa Dipalsukan*

Sebarkan artikel ini

Targetberita.co.id Jakarta, Beberapa hari terakhir, media sosial ramai membicarakan seorang “ustazah” muda bernama Nia Hajar, wajahnya teduh, senyumnya menenangkan.

Cara bicaranya lembut. Ia mengutip ayat Al-Qur’an, hadis, dan nasihat kehidupan. Pengikutnya mendekati satu juta. Jutaan orang menonton videonya setiap hari.

Homestay Kampung Landeuh

Lalu publik dikejutkan oleh satu kenyataan.

Ia bukan manusia.

Ia adalah persona AI.

*Jangan buru-buru takut. Dan jangan pula buru-buru kagum.*

Karena sesungguhnya yang sedang kita hadapi bukan sekadar teknologi baru, tetapi babak baru dalam sejarah dakwah.

Dulu dakwah berpindah dari masjid ke radio.

Kemudian ke televisi.

Lalu ke YouTube.

Berikutnya ke TikTok.

Hari ini…

AI mulai berbicara atas nama agama.

*Masalahnya bukan karena AI mampu berbicara.*

Masalahnya adalah ketika manusia mulai lupa bertanya,

> “Siapa yang sebenarnya sedang berbicara kepada saya?”

Dalam Islam, kita diajarkan bukan hanya bertanya apa yang dikatakan, tetapi juga siapa yang mengatakan.

Karena ilmu bukan sekadar informasi.

Ilmu adalah amanah.

*Di pesantren, seorang santri tidak hanya membaca kitab.*

Ia duduk bertahun-tahun di hadapan gurunya.

Mendengar.

Memperhatikan adab.

Belajar kerendahan hati.

Menerima sanad.

Menghafal bukan hanya isi pelajaran, tetapi juga akhlak orang yang mengajarkannya.

Mengapa?

Karena Rasulullah ﷺ tidak hanya mewariskan kalimat.

Beliau mewariskan manusia.

*AI tidak memiliki guru.*

Tidak pernah duduk di majelis.

Tidak pernah menangis ketika membaca Al-Qur’an.

Tidak pernah merasakan takut kepada Allah.

Tidak pernah bangun malam untuk bertahajud.

Ia hanya menyusun kata berdasarkan data yang dipelajarinya.

Maka AI bisa saja mengetahui ribuan hadis.

Tetapi AI tidak pernah merasakan getaran iman ketika mendengarnya.

*Lalu apakah AI harus ditolak?*

Tidak.

Sama sekali tidak.

Pisau bisa digunakan untuk memasak.

Pisau yang sama bisa digunakan untuk melukai.

Teknologinya tetap sama.

Yang menentukan adalah tangan yang menggunakannya. AI pun demikian.

Ia dapat membantu menerjemahkan kitab.

Menyusun subtitle ceramah.

Membuat ilustrasi pendidikan.

Membantu santri memahami bahasa Arab.

Membantu guru menyiapkan materi.

Semua itu adalah manfaat yang patut disyukuri.

*Namun ada satu batas yang tidak boleh hilang.*

AI boleh menjadi alat.

Tetapi jangan sampai menjadi pengganti ulama.

Karena ulama bukan sekadar orang yang bisa menjawab pertanyaan.

Ulama adalah orang yang akan dimintai pertanggungjawaban atas jawaban yang ia berikan.

Sedangkan AI tidak akan berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan setiap kalimat yang keluar dari “lisannya”.

Kitalah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Yang lebih mengkhawatirkan bukanlah AI.

Tetapi manusia yang mulai merasa cukup belajar agama dari video berdurasi satu menit.

Kita hidup di zaman ketika orang ingin memahami agama secepat menggulir layar.

Padahal para ulama menghabiskan puluhan tahun hanya untuk memahami satu disiplin ilmu.

Kedalaman perlahan digantikan oleh kecepatan.

Popularitas mulai mengalahkan otoritas.

Algoritma mulai lebih didengar daripada guru.

Mungkin inilah ujian terbesar generasi kita.

Bukan kekurangan informasi.

Tetapi kehilangan kemampuan membedakan antara popularitas dan otoritas, antara viral dan benar, antara menarik dan dapat dipertanggungjawabkan.

Masa depan dakwah memang akan berjalan bersama teknologi.

Tidak ada yang bisa menghentikannya.

Tetapi masa depan Islam tidak boleh kehilangan satu hal yang sejak dahulu menjaga kemurnian agama ini:

sanad.

Karena wajah bisa dibuat oleh kecerdasan buatan.

Suara bisa ditiru oleh mesin.

Gerakan bisa direkayasa oleh algoritma.

Tetapi keikhlasan…

Ketakwaan…

Dan amanah…

Tidak pernah bisa dipalsukan oleh teknologi apa pun.

“Di masa depan, mungkin kita akan bertanya kepada AI tentang banyak hal. Tetapi untuk memahami agama, jangan pernah berhenti duduk di hadapan guru yang hidup, yang beribadah, yang berakhlak, dan yang memiliki sanad. Sebab Islam tidak hanya diwariskan melalui kata-kata, tetapi melalui hati yang membimbing hati.”

Sumber : Jejak Jiwa

(Daniel Turangan)

HUT POLRI 80 PT. BULE ADVENTURE BADUY
PT. BULE ADVENTURE BADUY