logo tb
BeritaJakartaMetropolitanNasionalNewsPendidikanTerkini

‎Dari Kartini untuk Kohati: Meneguhkan Perempuan sebagai Tiang Peradaban Bangsa

186
×

‎Dari Kartini untuk Kohati: Meneguhkan Perempuan sebagai Tiang Peradaban Bangsa

Sebarkan artikel ini

Berita Opini

‎Targetberita.co.id Jakarta, Setiap bulan April, gegap gempita peringatan Hari Kartini kerap terjebak pada simbolisme formalitas.

‎Lomba kebaya dan rias wajah seolah menjadi tirai yang menutupi realitas pelik yang dihadapi perempuan Indonesia: mulai dari kekerasan berbasis gender, beban ganda, hingga struktur patriarki yang masih membatasi ruang gerak perempuan di ranah publik.

‎Sherly Mitriza, aktivis mahasiswi dari Fakultas Syariah UIN Imam Bonjol Padang, menyoroti bahwa pembebasan perempuan sering kali salah kaprah.

‎Menurutnya, emansipasi bukan sekadar kebebasan untuk bekerja, melainkan kebebasan untuk berpikir dan mengambil keputusan secara mandiri.

‎”Realitas menunjukkan representasi perempuan di posisi kepemimpinan, baik di parlemen maupun organisasi mahasiswa, masih bergelut dengan stereotip struktural. Di berbagai organisasi, termasuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), peran perempuan sering kali terpinggirkan pada tugas administratif, bukan pada kebijakan strategis atau diskursus ideologis,” ujar Sherly dalam opini tertulisnya.

‎Visi Intelektual Kartini dan KohatiSherly menjelaskan bahwa gagasan R.A. Kartini dalam Door Duisternis tot Licht sebenarnya sangat revolusioner dan selaras dengan nilai keislaman.

‎Kartini tidak menuntut pendidikan untuk menyaingi laki-laki, melainkan agar perempuan cakap menjadi “madrasatul ula” (sekolah pertama) bagi generasi bangsa.

‎Hal ini, lanjut Sherly, searah dengan Pedoman Dasar Korps HMI-Wati (PDK) yang memandatkan Kohati untuk membina Muslimah berkualitas Insan Cita.

‎”Kohati adalah pewaris sah semangat intelektualisme Kartini. Pemberdayaan di Kohati bukan tentang kompetisi buta dengan laki-laki, melainkan membangun kemitraan setara (partnership) yang didasari kemandirian etis,” tegasnya.

‎Jika dahulu Kartini menggunakan pena untuk melawan kolonialisme dan adat yang mengekang, maka kader Kohati masa kini ditantang untuk memecahkan keterbelakangan berpikir dan melawan ketidakadilan sosial.

‎Sebagai Imadul Bilad atau tiang negara, posisi perempuan sangat menentukan kokohnya peradaban.

‎”Jika tiang itu rapuh karena kebodohan, maka peradaban bangsa akan roboh. Merayakan Kartini bagi Kohati adalah panggilan sejarah untuk terus merawat pikiran, menjaga etika, dan menjadi penerang di tengah tantangan zaman,” pungkas Sherly.

‎Melalui tulisan ini, diharapkan kader perempuan tidak lagi hanya menjadi pelengkap seremonial, tetapi muncul sebagai pemikir, aktivis, dan profesional yang membawa semangat keislaman dan keindonesiaan.

‎(Daniel Turangan)