logo tb
BeritaDaerahGorontaloNasionalNewsTerkini

Hari Tani Nasional 2026, Praktisi Dorong Pemerintah Perkuat Kesejahteraan Petani

95
×

Hari Tani Nasional 2026, Praktisi Dorong Pemerintah Perkuat Kesejahteraan Petani

Sebarkan artikel ini

Targetberita.co.id Gorontalo, Praktisi pertanian Jamaluddin Hamid mendorong pemerintah memperkuat kesejahteraan petani sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada dan ketahanan pangan nasional.

Menurutnya, petani merupakan garda terdepan dalam menjaga ketersediaan pangan, sehingga peringatan Hari Tani Nasional pada (24/9/2026).

H. SARMILI, SH., MH.

perlu menjadi momentum untuk memperhatikan kondisi kehidupan petani secara lebih nyata.

Jamaluddin mengatakan, gaung peringatan Hari Tani Nasional selama ini belum sepenuhnya dirasakan oleh petani, bahkan sebagian petani belum mengetahui momentum tersebut.

“Biasanya Hari Tani itu gemanya tidak di tingkat petani. Petani kebanyakan tidak tahu kalau itu Hari Tani,” ucap Jamaluddin saat dimintai ganggapan momentum Peringatan Hari Tani Nasional, Rabu (23/9/2026).

menilai, persoalan kesejahteraan petani masih menjadi pekerjaan yang perlu mendapatkan perhatian serius karena perubahan kondisi ekonomi petani dari tahun ke tahun belum menunjukkan perkembangan yang signifikan.

Jamaluddin menjelaskan, sebagian petani masih berstatus sebagai petani penggarap dengan luas lahan yang terbatas, sementara kepemilikan lahan pertanian belum merata.

“Petani penggarap, luas lahan yang sempit, kemudian hanya buruh tani. Dari tahun ke tahun tidak ada sebenarnya perubahan yang signifikan di tingkat petani,” kata Jamaluddin.

Kondisi tersebut membuat sebagian petani bergantung pada penghasilan dari pengelolaan lahan milik pihak lain maupun pekerjaan sebagai buruh tani.

Menurutnya, permasalahan petani tidak hanya berkaitan dengan usaha tani, tetapi juga menyangkut kesejahteraan keluarga yang perlu mendapatkan dukungan melalui berbagai program pemerintah.

“Tentunya kita punya harapan besar bahwa mungkin pemerintah bisa lebih memperhatikan bukan saja usaha taninya, tapi juga keluarga petani kita bisa disentuh dalam bentuk lain sehingga betul-betul bisa merasakan kesejahteraan,” ujarnya.

Jamaluddin juga menyoroti tingkat pendidikan petani yang relatif rendah serta usia pelaku utama pertanian yang semakin menua sebagai tantangan dalam mempercepat adopsi teknologi.

Ia menyebut jumlah petani milenial masih terbatas, sehingga proses peningkatan kapasitas dan penguasaan teknologi pertanian menghadapi berbagai hambatan.

“Persoalan dasarnya itu pendidikan petani kita rata-rata rendah, kemudian umurnya juga sudah tua-tua semua. Petani milenial ini bisa dihitung dengan jari,” ucapnya.

Selain persoalan sumber daya manusia, keterbatasan kepemilikan lahan turut memengaruhi kemampuan petani meningkatkan produktivitas dan pendapatan secara berkelanjutan.

Jamaluddin menambahkan, perkembangan penggunaan alat panen juga berpotensi menggeser pekerjaan kelompok buruh tani yang selama ini mengandalkan jasa penyiangan maupun pemanenan.

“Apalagi dengan adanya alat panen, biasanya kelompok panen itu tergusur dengan sendirinya. Jadi, beberapa persoalan di tingkat petani kita belum terlalu signifikan berubah,” tambahnya.

Ia berharap peringatan Hari Tani Nasional 2026 dapat mendorong evaluasi kebijakan pertanian yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi pangan, tetapi juga memperkuat kepemilikan lahan, kapasitas petani, dan kesejahteraan keluarga mereka.

(dilansir dari rri.co.id)

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PT. BULE ADVENTURE BADUY