logo tb
BeritaJakartaMetropolitanNasionalNewsOlahragaTerkini

Mahasiswa UNJ Raih Norma Woman Grandmaster Catur

59
×

Mahasiswa UNJ Raih Norma Woman Grandmaster Catur

Sebarkan artikel ini

Targetberita.co.id Jakarta, Mahasiswa program studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta sekaligus pecatur putri Indonesia, Laysa Latifah, berhasil mewujudkan impian meraih predikat Woman Grandmaster.

Gelar prestisius International Master miliknya kini disempurnakan dengan hasil debut di Olimpiade Catur FIDE ke-46 2026 yang berlangsung dari 16 hingga 27 September di Samarkand, Uzbekistan, berdasarkan laporan dari Detikcom.

H. SARMILI, SH., MH.

Di ajang olimpiade catur pertamanya tersebut, Laysa sukses meraih gelar tertinggi khusus pecatur wanita berupa norma Woman Grandmaster, yang sekaligus mencatatkannya sebagai penerima WGM keempat dari Indonesia.

“Sangat senang sekali, apalagi ini turnamen olimpiade pertama saya, jadi sangat spesial juga, karena saya berhasil mendapatkan Woman Grandmaster terakhir saya dan menjadi WGM ke-4 Indonesia,” tutur Laysa.

Ajang Olimpiade Catur FIDE 2026 yang diikuti oleh 196 tim dari 194 negara ini menjadi pengalaman berharga bagi Laysa setelah melalui 11 babak pertandingan selama 11 hari menghadapi berbagai tim kuat seperti China, India, Kazakhstan, dan Georgia.

Dalam menghadapi persaingan ketat tersebut, tantangan terbesar bagi Laysa berkaitan dengan upaya menjaga mental diri sendiri serta mempertahankan kepercayaan diri tanpa merasa takut terhadap lawan.

Indonesia Peringkat Ke-13 Klasemen Sementara Asian Games 2026
Indonesia Peringkat Ke-13 Klasemen Sementara Asian Games 2026.

“Tantangan terbesar di sini mungkin lebih ke mental diri sendiri, semua pemain terbaik dari masing-masing negara mengikuti olimpiade tersebut. Jadi, tantangan terbesar adalah bagaimana saya mempertahankan kepercayaan diri dan tidak takut terhadap siapa pun lawan yang akan dihadapi,” ujar Laysa.

Kunci keberhasilan Laysa dalam kompetisi ini juga didorong oleh komitmen menjaga fokus dan optimisme, di mana ia berusaha menikmati setiap pertandingan serta memberikan kemampuan terbaik tanpa memikirkan hasil akhir.

“Intinya saya berusaha menikmati setiap game, berusaha terbaik untuk menang. Kalau ada hasil yang kurang baik, saya coba evaluasi dan fokus lagi untuk pertandingan berikutnya,” kata Laysa.

Di balik pencapaian norma WGM tersebut, Laysa menyampaikan rasa syukurnya atas dukungan dari berbagai pihak, termasuk pihak kampus melalui pemberian beasiswa serta bimbingan dari para pelatih di Pelatnas Junior Indonesia seperti Susanto Megaranto dan Tirta Chandra Purnama, beserta sejumlah pelatih KONI DKJ.

“Peran pelatih sangat penting menurut saya karena bisa menganalisa dan berdiskusi hal baru dalam catur, yang mana sangat dibutuhkan bagi para pemain catur,” jelas Laysa.

(Agus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Whats-App-Image-2026-09-26-at-21-26-43