logo tb
BeritaJakartaMetropolitanNasionalNewsTerkiniTNI / POLRI

HSG Anjlok 11,57 Persen Usai MSCI Usulkan Perubahan Status

83
×

HSG Anjlok 11,57 Persen Usai MSCI Usulkan Perubahan Status

Sebarkan artikel ini

Targetberita.co.id Jakarta, Pasar saham Indonesia mengalami tekanan tajam setelah MSCI mengusulkan perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar mandiri. Pada perdagangan Jumat (16/10/2026).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok 11,57 persen, mencatatkan penurunan harian terdalam sejak krisis moneter 1998, dilansir dari Money.

H. SARMILI, SH., MH.

Data BEI menunjukkan IHSG kehilangan 678,67 poin dan ditutup pada level 5.185,11, turun dari penutupan sebelumnya di 5.863,78.

Koreksi tersebut melampaui penurunan 10,38 persen saat krisis keuangan global 2008, tetapi masih di bawah rekor penurunan harian sebesar 11,95 persen pada 8 Januari 1998.

Tekanan jual sejak pembukaan perdagangan mendorong BEI menghentikan sementara transaksi selama 30 menit setelah IHSG turun 8 persen.

Sepanjang pekan 12–16 Oktober 2026, indeks melemah 14,91 persen dari 6.093,76 menjadi 5.185,11.

Kapitalisasi pasar saham juga menyusut 14,43 persen menjadi Rp 9.157 triliun, dibandingkan Rp 10.701 triliun pada pekan sebelumnya.

Dengan demikian, sekitar Rp 1.544 triliun nilai kapitalisasi pasar menghilang dalam sepekan.

Menurut laporan Reuters, saham-saham unggulan dari sektor perbankan, pertambangan, dan energi ikut tertekan hingga mendekati batas penurunan harian bursa sebesar 15 persen.

Secara kumulatif, saham Indonesia telah kehilangan hampir 40 persen nilainya sepanjang 2026.

MSCI menyoroti persoalan transparansi kepemilikan saham, pola perdagangan, aksesibilitas investasi, dan tata kelola pasar Indonesia.

Sejak Januari 2026, penyedia indeks global tersebut telah membekukan sejumlah perubahan pada indeks saham Indonesia sambil menunggu penyelesaian persoalan tersebut.

Dalam pernyataannya, MSCI menegaskan masih ada persoalan mendasar yang belum terselesaikan di pasar modal Indonesia.

“Masih terdapat kekhawatiran signifikan terkait disfungsi pasar,” kata MSCI dalam pernyataannya.

MSCI menilai penurunan status menjadi pasar perbatasan belum cukup mencerminkan persoalan yang dihadapi Indonesia.

Karena itu, lembaga tersebut mengusulkan klasifikasi pasar mandiri yang akan mengeluarkan saham Indonesia dari indeks MSCI untuk pasar berkembang maupun pasar perbatasan jika diterapkan.

Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi aliran modal karena indeks MSCI digunakan sebagai acuan oleh pengelola dana pasif dan investor aktif global.

Data LSEG mencatat investor asing telah menarik sekitar 4,6 miliar dollar AS dari saham Indonesia sepanjang 2026.

UBS memperkirakan penghapusan saham Indonesia dari indeks MSCI dapat memicu arus keluar dana pasif sekitar 4 miliar dollar AS, ditambah potensi penarikan 15 miliar dollar AS dari investor aktif.

Total potensi arus keluar diperkirakan mencapai 19 miliar dollar AS, tetapi angka tersebut merupakan proyeksi dan bukan dana yang dipastikan keluar.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pemerintah perlu memprioritaskan pembenahan transparansi dan penegakan aturan untuk memulihkan kepercayaan investor.

(Agus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Whats-App-Image-2026-09-26-at-21-26-43