logo tb
BeritaJakartaMetropolitanNasionalNewsTerkini

‎Menanti Kepastian Negara: Kisah Pilu Investor Dapur Gizi yang Terjerat Utang Akibat SPPG Gagal Beroperasi

31
×

‎Menanti Kepastian Negara: Kisah Pilu Investor Dapur Gizi yang Terjerat Utang Akibat SPPG Gagal Beroperasi

Sebarkan artikel ini

Targetberita.co.id Jakarta, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang membawa dampak positif bagi masyarakat, kini menyisakan persoalan mendalam bagi sebagian mitra pembangunan infrastrukturnya.
‎
‎Salah satunya menimpa Leni, investor asal Tango Prango, Toraja, yang kini harus menanggung kerugian hingga miliaran rupiah akibat dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dibangunnya gagal beroperasi.
‎
‎Leni mengungkapkan bahwa keputusannya untuk terjun sebagai investor murni didasari atas kepercayaan terhadap program pemerintah dan dorongan dari Satgas terkait.
‎
‎Melalui pemaparan skema program yang menjanjikan keuntungan serta insentif akselerasi, ia diyakinkan bahwa proyek ini dapat rampung dalam waktu singkat.
‎
‎”Saya bersedia menjadi investor karena ini program pemerintah. Kami diiming-imingi oleh Satgas mengenai proyeksi keuntungan dan insentif. Sebagai putra daerah, kami ingin berkontribusi langsung bagi kemajuan kampung halaman melalui program MBG ini,” ujar Leni saat memberikan keterangan kepada awak media.
‎
‎Demi mengejar target percepatan pembangunan selama 35 hari yang diinstruksikan oleh Satgas, Leni menggalang modal pribadi dan mengambil pinjaman dari institusi perbankan.
‎
‎Namun, komitmen tersebut kini berubah menjadi beban finansial yang berat. Dua unit dapur gizi yang selesai dibangun dengan realisasi fisik 100 persen dan menelan biaya sekitar Rp. 3 miliar, hingga saat ini belum mendapatkan kepastian operasional.
‎
‎Dampaknya, Leni kini harus menghadapi tekanan penagihan dari para pekerja bangunan (tukang) serta kewajiban cicilan bank yang terus menunggak setiap bulan.
‎
‎Situasi ini tidak hanya memukul kondisi ekonomi, tetapi juga memperburuk kesehatan psikologis dan fisik keluarganya, di mana sang suami kini mengalami komplikasi kesehatan akibat tekanan stres yang berkepanjangan.
‎
‎”Saat ini fokus saya bukan lagi mencari keuntungan. Harapan saya sangat sederhana, yaitu modal yang telah dikeluarkan dapat dikembalikan agar saya bisa melunasi seluruh kewajiban utang kepada bank dan para pekerja.
‎Suami saya sedang sakit keras dan kami kesulitan membiayai pengobatannya,” tegas Leni dengan nada haru.
‎
‎Melalui momentum ini, Leni mewakili para investor terdampak sangat berharap agar Pemerintah Pusat dan Badan Gizi Nasional (BGN) segera turun tangan memberikan solusi konkret, perlindungan hukum, serta kepastian tata kelola.
‎
‎Menurutnya, para investor lokal telah menunjukkan itikad baik dan pengorbanan besar untuk menyukseskan program nasional ini, sehingga sudah sepatutnya mendapatkan perlakuan yang adil dan transparan.
‎
‎”Kami hanya ingin pemerintah melihat realita penderitaan kami di lapangan. Kami bertindak atas dasar percaya kepada negara, dan kami berharap negara hadir memberikan jalan keluar yang berkeadilan bagi kami dan keluarga,” pungkasnya.
‎
‎(Daniel Turangan / Agus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Whats-App-Image-2026-09-26-at-21-26-43