Berita Opini
Targetberita.co.id Jakarta, Natasya Hidayati Madjid, mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya, meluncurkan sebuah esai kritis berjudul “Meninjau Ulang Surat yang Belum Sampai: Meninjau Ulang Gelap dan Terang Perempuan Era Modern”,Sabtu (2/5/2026).
Dalam tulisan tersebut, Natasya melontarkan kritik tajam terhadap fenomena perempuan modern yang dinilainya tengah mengalami “bunuh diri intelektual” akibat ketergantungan pada validasi media sosial.
Mengambil inspirasi dari semangat Door Duisternis tot Licht milik Kartini, Natasya berargumen bahwa jika dulu perempuan dipingit oleh tembok rumah, kini perempuan modern dipingit oleh layar ponsel yang tipis namun memenjarakan.
Terjebak dalam Panopticon DigitalDalam analisisnya, Natasya menggunakan teori The Second Sex dari Simone de Beauvoir dan konsep Panopticon Michel Foucault.
Ia menyoroti bagaimana platform seperti TikTok dan Instagram telah membuat perempuan secara sukarela menjadikan dirinya sebagai “objek” demi angka-angka fana seperti like dan share.
”Perempuan modern hari ini mahir menggunakan aplikasi, namun gagap dalam membedah ketidakadilan struktural. Mereka merayakan emansipasi dengan cara meniru perilaku konsumtif yang banal, terjebak dalam apa yang disebut sebagai neoliberal feminism,” tulis Natasya dalam opininya.
Kritik Terhadap Kemunduran IntelektualNatasya menyayangkan hilangnya keberanian intelektual yang dulu dimiliki tokoh-tokoh seperti Nawal El Saadawi atau Rosa Luxemburg.
Menurutnya, diksi perempuan di media sosial kini cenderung menyempit hanya pada urusan asmara yang didramatisasi atau sekadar estetika tampilan fisik (outfit).
”Cahaya pencerahan para pendahulu seolah meredup, digantikan oleh lampu neon diskotik digital yang menyilaukan mata namun tidak menghangatkan jiwa. Kita sedang menyaksikan tragedi intelektual di mana emansipasi dirayakan dengan menyerahkan diri menjadi komoditas digital,” tambahnya.
Seruan untuk Kembali Menjadi SubjekMelalui rilis ini, Natasya mengajak perempuan untuk melakukan dekonstruksi total terhadap gaya hidup digital.
Ia menyerukan agar perempuan kembali ke dunia literasi dan memiliki integritas untuk tidak membiarkan dirinya “dilelang” di pasar digital. Esai ini ditutup dengan pesan kuat: “Sapere Aude” (Beranilah berpikir sendiri).
Perempuan diharapkan berhenti menjadi sekadar “konten” dan kembali menjadi manusia yang memproduksi makna serta mengguncang kursi kekuasaan melalui argumen, bukan sekadar sentimen.
(Daniel Turangan)
Meninjau Ulang ‘Gelap dan Terang’: Esai Natasya Hidayati Madjid Kritik Fenomena Perempuan Modern yang Terjebak Algoritma Digital












