Targetberita.co.id Jakarta, Perumda Pasar Jaya memperkuat pemantauan pasar bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan sejumlah pemangku kepentingan sebagai upaya menjaga stabilitas harga pangan.
“Koordinasi antara Perumda Pasar Jaya dan Pemprov DKI Jakarta dalam mengantisipasi lonjakan harga pangan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) maupun pada musim tertentu berjalan dengan sangat baik,” kata Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan.
Pemantauan dilakukan secara intensif melalui koordinasi dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Langkah tersebut bertujuan mengantisipasi potensi gejolak harga sejak dini sekaligus memastikan distribusi pangan berjalan lancar.
“Kerja sama ini juga memastikan ketersediaan komoditas pangan strategis menjelang HBKN maupun pada periode meningkatnya konsumsi masyarakat,” ujar Agus.
Menurut Agus, TPID beranggotakan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pangan, perwakilan Bank Indonesia, serta Perum Bulog.
Tim tersebut secara rutin memantau perkembangan harga, kondisi pasokan, distribusi pangan, hingga potensi gangguan di pasar.
Selain melakukan pemantauan, Perumda Pasar Jaya juga secara berkala membahas dan mengevaluasi perkembangan kondisi pasar melalui rapat koordinasi yang digelar setiap pekan.
Melalui forum tersebut, pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan dapat merumuskan langkah cepat apabila ditemukan potensi kenaikan harga maupun gangguan pasokan di lapangan.
“Hasil pembahasan kemudian ditindaklanjuti dengan berbagai langkah pengendalian, seperti penguatan pasokan, penyelenggaraan pasar murah, bazar pangan, operasi pasar, serta berbagai program stabilisasi harga lainnya,” jelasnya.
Agus mengatakan, gejolak kenaikan harga pangan di Jakarta umumnya dipicu oleh ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. “Biasanya menjelang HBKN dan tahun baru, kebutuhan masyarakat terhadap berbagai komoditas pangan mengalami peningkatan yang cukup signifikan,” ujarnya.
Selain meningkatnya permintaan, perubahan musim dan cuaca ekstrem juga menjadi faktor yang perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi produksi di daerah sentra sekaligus menghambat kelancaran distribusi menuju Jakarta.
Kondisi tersebut berpotensi mengurangi pasokan di pasar sehingga berdampak pada pergerakan harga sejumlah komoditas.
Tak hanya itu, sejumlah faktor eksternal turut memengaruhi stabilitas harga pangan, antara lain kenaikan biaya distribusi akibat meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM), gangguan logistik, hingga perubahan kondisi ekonomi nasional.
” Saya berharap koordinasi yang kuat dan pemantauan pasar dalam program stabilisasi harga ini dapat menjaga inflasi pangan agar tetap terkendali, sehingga kebutuhan pokok masyarakat tetap terjamin dengan harga yang terjangkau,” kata Agus.
Adapun komoditas pangan utama yang dipasok atau menjadi unggulan meliputi beras, aneka sayuran, telur ayam, gula, serta berbagai komoditas pertanian lainnya.
(Agus)















