logo tb
BeritaDaerahKab. Serdang BedagaiNasionalNewsSumatera UtaraTerkiniTNI / POLRI

‎Warga Sei Rampah Keluhkan Bau Menyengat Budidaya Lele, Kades dan Aparat Turun Tangan

298
×

‎Warga Sei Rampah Keluhkan Bau Menyengat Budidaya Lele, Kades dan Aparat Turun Tangan

Sebarkan artikel ini

Targetberita.co.id Serdang Bedagai – Sumatera Utara,  3 Mei 2026 – Aktivitas budidaya ikan lele di Dusun VII Kampung Pala, Desa Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, memicu keresahan warga, Minggu (3/5/2026).

Polusi udara berupa bau busuk menyengat yang bersumber dari penggunaan pakan organik dan limbah kolam dinilai telah melewati batas toleransi dan mengganggu kesehatan masyarakat sekitar.

‎Bau tajam tersebut diduga berasal dari penggunaan pakan berbahan organik seperti ampas tahu, limbah darah, hingga bangkai ayam yang tidak dikelola dengan baik.

‎Selain itu, penumpukan sisa pakan di dasar kolam yang mengalami dekomposisi melepaskan gas amonia dan hidrogen sulfida ke udara pemukiman.

‎”Kami kesulitan bernapas lega. Jendela rumah harus terus tertutup, nafsu makan hilang, dan kualitas tidur terganggu. Ini bukan sekadar bau, tapi sudah merusak kenyamanan hidup kami,” ujar salah seorang warga yang terdampak.

‎Secara medis, paparan gas amonia dan udara kotor dalam jangka panjang berisiko menyebabkan iritasi saluran pernapasan, batuk, sesak napas (asma), hingga penurunan sistem kekebalan tubuh, terutama bagi anak-anak dan lansia di area terdampak.

‎Menanggapi keluhan tersebut, Pemerintah Desa Sei Rampah telah mengambil langkah cepat.

‎Kepala Desa Sei Rampah bersama Bhabinsa dan Bhabinkamtibmas melakukan peninjauan langsung ke lokasi budidaya di Dusun VII Kampung Pala.

‎”Kami sudah memantau langsung ke lapangan bersama aparat terkait. Sebagai tindak lanjut, pihak desa akan segera melakukan pemanggilan resmi kepada pemilik usaha budidaya lele tersebut untuk dimintai keterangan dan mencari solusi bersama,” tegas Kepala Desa Sei Rampah.

‎Warga menuntut agar pelaku usaha lebih bertanggung jawab dalam pengelolaan pakan dan limbah.

‎Masyarakat berharap adanya penerapan metode budidaya yang lebih ramah lingkungan, misalnya dengan penggunaan probiotik atau beralih ke pakan mandiri yang terfermentasi sempurna agar tidak mencemari udara.

‎Diharapkan mediasi mendatang dapat membuahkan hasil nyata, sehingga roda ekonomi budidaya perikanan tetap berjalan tanpa merampas hak warga atas udara bersih dan lingkungan yang sehat.

‎(Roni P Purba)