logo tb
BeritaJakartaMetropolitanNasionalNewsTerkini

Momentum 98 Tahun Sumpah Pemuda, GPM Siap Hadir sebagai Pelopor Gerakan Pemuda yang Ideologis, Dinamis, dan Berpihak kepada Rakyat

59
×

Momentum 98 Tahun Sumpah Pemuda, GPM Siap Hadir sebagai Pelopor Gerakan Pemuda yang Ideologis, Dinamis, dan Berpihak kepada Rakyat

Sebarkan artikel ini

Targetberita.co.id Jakarta,  Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Marhaenis (DPP GPM) menggelar pelantikan pengurus pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda.

H. SARMILI, SH., MH.

Pelantikan ini merupakan tindak lanjut dari hasil Kongres XI Gerakan Pemuda Marhaenis yang diselenggarakan di Jembrana, Bali, pada Juni 2026 lalu.

Pelantikan tersebut menjadi momentum penting bagi GPM untuk memperkuat konsolidasi organisasi, meneguhkan arah perjuangan ideologis, sekaligus memperluas peran pemuda Marhaenis dalam menjawab berbagai tantangan kebangsaan.

Lebih dari sekadar seremoni organisasi, pelantikan ini diharapkan menjadi titik awal bagi lahirnya gerakan yang lebih progresif, berani, dan mampu menghadirkan gagasan serta tindakan nyata di tengah masyarakat.

Beriringan dengan peringatan Sumpah Pemuda, GPM menegaskan kembali pentingnya persatuan nasional sebagai fondasi bagi kemajuan Indonesia.

Semangat yang lahir pada 28 Oktober 1928 tersebut harus terus dihidupkan oleh generasi muda melalui perjuangan yang melampaui sekat-sekat perbedaan, dengan menempatkan kepentingan bangsa dan kesejahteraan rakyat sebagai orientasi utama.

Bagi GPM, salah satu jalan untuk mewujudkan cita-cita tersebut adalah dengan terus membumikan ajaran Marhaenisme yang diwariskan oleh Bung Karno.

Marhaenisme tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan historis atau sekadar identitas organisasi, melainkan harus menjadi landasan berpikir, bersikap, dan bertindak dalam memperjuangkan keadilan sosial, kemandirian ekonomi, serta kedaulatan bangsa.

*Marhaenisme sebagai pijakan persatuan dan kemajuan Indonesia*

Sekretaris Jenderal DPP GPM menegaskan bahwa Marhaenisme merupakan ideologi yang paling ideal bagi bangsa Indonesia dalam menjaga persatuan sekaligus mendorong kemajuan nasional.

Menurutnya, Indonesia merupakan bangsa yang besar dengan keragaman suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial.

Keragaman tersebut membutuhkan landasan pemikiran yang tidak hanya mampu mempersatukan bangsa, tetapi juga memberikan orientasi yang jelas mengenai tujuan pembangunan, yakni terciptanya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Marhaenisme adalah ideologi yang paling ideal bagi bangsa Indonesia. Apabila bangsa ini ingin terus bersatu dan maju, maka Marhaenisme harus menjadi jawaban yang kita perjuangkan. Marhaenisme mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai kebebasan dari penjajahan, tetapi harus diwujudkan melalui kemerdekaan ekonomi, keadilan sosial, dan keberpihakan kepada rakyat. Indonesia tidak boleh hanya maju secara angka dan pertumbuhan, tetapi harus maju dengan memastikan rakyatnya memperoleh kesejahteraan dan kesempatan yang adil,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa tantangan generasi muda saat ini semakin kompleks. Ketimpangan sosial, terbatasnya kesempatan kerja, persoalan pendidikan, ketergantungan ekonomi, hingga pengelolaan sumber daya alam merupakan persoalan yang membutuhkan jawaban ideologis sekaligus solusi praktis.

Karena itu, kader-kader GPM dituntut untuk tidak hanya memahami pemikiran Bung Karno secara konseptual, tetapi juga menerjemahkannya ke dalam kerja-kerja konkret.

Kader Marhaenis harus hadir dalam ruang pendidikan, ekonomi kerakyatan, kebudayaan, advokasi sosial, serta berbagai ruang strategis tempat kebijakan publik dan masa depan bangsa ditentukan.

Marhaenisme, dalam konteks tersebut, harus menjadi ideologi yang hidup di tengah masyarakat. Kekuatan sebuah ideologi tidak hanya diukur dari seberapa sering namanya disebut, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilainya mampu menjawab persoalan rakyat dan memberikan arah bagi perubahan sosial.

*Arya Weda Karna: GPM harus dikenal melalui gerakan-gerakan zigzag*

Sementara itu, Ketua Umum DPP Gerakan Pemuda Marhaenis, Arya Weda Karna, menyampaikan bahwa GPM harus tumbuh menjadi organisasi yang dikenal luas melalui gerakan-gerakannya yang dinamis, kreatif, berani, dan penuh terobosan.

Menurutnya, organisasi pemuda tidak boleh terjebak dalam rutinitas administratif dan kegiatan seremonial semata, tetapi harus mampu membangun daya pengaruh di tengah masyarakat.

Arya Weda Karna menekankan pentingnya apa yang ia sebut sebagai *gerakan-gerakan zigzag*, yakni strategi organisasi yang lincah, adaptif, dan mampu membaca momentum untuk memperluas pengaruh serta menarik perhatian publik terhadap gagasan dan perjuangan GPM.

“GPM harus menjadi organisasi yang terkenal dengan semua gerakan zigzag-nya. Kita tidak boleh hanya sibuk dengan urusan internal, rapat, dan kegiatan seremonial. Kita harus mampu melahirkan gerakan yang membuat masyarakat melihat, mendengar, dan memperhitungkan keberadaan GPM. Organisasi harus berani mengambil inisiatif, menciptakan momentum, menyampaikan gagasan, dan melakukan terobosan-terobosan yang relevan dengan kebutuhan zaman,” tegas Arya Weda Karna.

Gagasan tersebut, menurutnya, memiliki semangat yang sejalan dengan perjalanan perjuangan Bung Karno ketika masih muda.

Bung Karno tidak hanya dikenal karena pemikirannya, tetapi juga karena keberaniannya menyampaikan gagasan melalui pidato, tulisan, pergerakan organisasi, dan aktivitas politik yang menggugah perhatian masyarakat sekaligus menantang dominasi kolonialisme Belanda.

Bung Karno memahami bahwa perjuangan tidak cukup hanya dengan memiliki gagasan yang benar.

Gagasan tersebut harus diperjuangkan, disebarluaskan, dan dikomunikasikan melalui strategi yang tepat agar mampu membangun kesadaran serta menggerakkan masyarakat.

Semangat itulah yang hendak diterjemahkan oleh GPM ke dalam konteks kekinian.

Gerakan zigzag bukan berarti organisasi bergerak tanpa arah atau mengorbankan prinsip demi popularitas.

Sebaliknya, gerakan tersebut merupakan kemampuan membaca situasi, menentukan momentum, memilih strategi, dan membangun langkah-langkah kreatif tanpa meninggalkan landasan ideologis.

Dengan pendekatan itu, GPM diharapkan tidak hanya dikenal di lingkungan kadernya sendiri, tetapi juga diperhitungkan dalam diskursus publik, gerakan sosial, pendidikan politik, dan perjuangan kepentingan rakyat.

“Belajar dari Bung Karno, kita harus memahami bahwa perjuangan membutuhkan keberanian, kecerdikan, dan kemampuan membaca momentum. GPM harus berani tampil, berani menyampaikan kritik, berani menawarkan gagasan, dan berani melakukan terobosan. Namun, semuanya harus tetap berpijak pada Marhaenisme dan keberpihakan kepada rakyat. Kita tidak mengejar popularitas kosong; kita ingin membangun pengaruh agar perjuangan kita benar-benar memberikan manfaat bagi bangsa dan negara,” lanjutnya.

*Dari pelantikan menuju kerja nyata organisasi*

Pelantikan pengurus DPP GPM juga menjadi tantangan untuk membuktikan bahwa organisasi kepemudaan berbasis ideologi tetap relevan dalam menghadapi perubahan zaman.

Konsolidasi kepengurusan harus diikuti dengan penguatan kaderisasi, pembenahan struktur organisasi, perluasan jaringan, serta penyusunan program yang terukur dan berkelanjutan.

GPM perlu membangun tradisi intelektual yang kuat, memperluas ruang dialog kebangsaan, mengembangkan pendidikan politik bagi generasi muda, serta menghadirkan respons nyata terhadap persoalan masyarakat.

Pada saat yang sama, kreativitas gerakan harus menjadi kekuatan untuk menyampaikan gagasan Marhaenisme dengan bahasa, pendekatan, dan medium yang dapat diterima oleh generasi muda masa kini.

Dalam menghadapi tantangan era digital, gerakan pemuda juga dituntut mampu memanfaatkan ruang publik secara cerdas.

Gagasan yang kuat harus disertai komunikasi yang efektif, sedangkan keberanian mengambil sikap harus ditopang oleh argumentasi, data, dan konsistensi perjuangan.

Dengan demikian, GPM dapat membangun reputasi bukan hanya sebagai organisasi yang lantang berbicara, tetapi juga sebagai organisasi yang mampu berpikir, bekerja, dan memberikan solusi.

Peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab historisnya masing-masing.

Jika generasi 1928 berani melampaui perbedaan untuk membangun kesadaran sebagai satu bangsa, maka generasi hari ini harus berani memperjuangkan persatuan yang disertai keadilan, kemandirian, dan kesejahteraan rakyat.

Bagi GPM, meneruskan perjuangan Bung Karno bukan sekadar mengulang romantisme sejarah.

Tugas generasi Marhaenis adalah menjaga api pemikiran tersebut tetap menyala, memperbaruinya melalui kerja intelektual dan gerakan yang relevan, serta memastikan bahwa cita-cita kemerdekaan terus diperjuangkan dalam kehidupan nyata.

Pelantikan DPP GPM pada 28 Oktober 2026 diharapkan menjadi awal dari babak baru perjuangan organisasi: memperkuat akar ideologi, memperluas jangkauan gerakan, dan membangun pengaruh melalui kerja nyata.

Mengakar kuat dalam Marhaenisme, bergerak lincah dalam perjuangan, dan menjulang melalui pengabdian kepada rakyat.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Whats-App-Image-2026-09-26-at-21-26-43