Targetberita.co.id Jakarta, Pangkat boleh terus bertambah, jabatan bisa silih berganti, tetapi ada sesuatu yang semestinya tidak berubah sepanjang perjalanan seorang perwira: pengabdian dan kerendahan hati.
Komisaris Jenderal Polisi Albertus Rachmad Wibowo adalah salah satu sosok yang menarik dilihat dari sisi tersebut.
Di balik tiga bintang di pundaknya, terdapat perjalanan panjang lebih dari tiga dekade sebagai anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Sebuah perjalanan yang tidak hanya diisi dengan jabatan, tetapi juga pengalaman, tanggung jawab, tantangan dan pengabdian.
Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1993 itu kini tercatat sebagai jenderal bintang tiga pertama dari angkatannya. Pencapaian tersebut tentu bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba.
Ada proses panjang yang membentuknya, sejak menjadi perwira muda hingga dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis.
Saat ini, Rachmad mengemban amanah sebagai Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Posisi tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana perjalanan kariernya terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
Dunia reserse menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan profesional Rachmad.
Ia pernah dipercaya sebagai Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, sebuah tugas yang menempatkannya di tengah perkembangan kejahatan yang semakin bergeser ke ruang digital.
Ketika teknologi berkembang, modus kejahatan pun berubah. Ancaman tidak selalu datang dalam bentuk yang terlihat, tetapi dapat bergerak melalui jaringan digital, menyentuh kehidupan masyarakat dan bahkan memiliki dampak terhadap keamanan nasional.
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting ketika Rachmad kemudian dipercaya menjalankan tugas di BSSN.
Namun, perjalanan profesionalnya tidak hanya berlangsung di balik meja atau ruang digital.
Ia juga mendapat pengalaman memimpin langsung masyarakat melalui penugasan sebagai Kapolda Jambi dan Kapolda Sumatera Selatan.
Menjadi kapolda berarti berhadapan dengan persoalan masyarakat yang sangat beragam.
Seorang pemimpin kepolisian dituntut tidak hanya tegas dalam mengambil keputusan, tetapi juga mampu mendengar, berkomunikasi dan memahami persoalan yang dihadapi masyarakat.
Di lapangan, kepemimpinan diuji bukan hanya oleh persoalan besar, tetapi juga oleh berbagai persoalan kecil yang menyentuh kehidupan masyarakat sehari-hari.
(Agus)














